Lita : Hobi Tattoo Sebanding Kinerja dan Prestasi

(istimewa/doc)

SEMARANG (asatu.id) – Tattoo boleh berderet tapi kerjaan juga harus the best, begitu prinsip yang dipegang Vincentia Nurullita Indriani atau akrab disapa Lita. Wanita 25 tahun dan salah satu hotelier di Semarang ini menyukai tattoo sejak SMP serta memiliki tattoo pertama selepas SMA. Punya tattoo juga tak membuat kualitasnya dalam bekerja turun.

“Iya, aku udah mulai suka tattoo tuh dari SMP, cuman karena belum kerja ya, belum punya duit sendiri jadi baru konsennya abis kelar SMA. Tattoo pertama dulu itu bayar, habis itu yang menuhin badanku ya tattoo pas aku jadi model buat lomba. Waktu itu lombanya ke Bali, Bandung, Jakarta, Malang, Jogja, sama Magelang,” ujar Lita.

Jika dulu kesibukannya menjadi model memungkinkan Lita sering menambah koleksi tattoo di tubuhnya, saat ini tak bisa sesering dulu. Kesibukannya bekerja di salah satu hotel ternama di Semarang menyita lebih banyak waktunya.

Menurutnya tidak ada yang spesial dalam membuat sebuah tattoo harus seperti apa, yang penting dirinya suka, itupun kalau sedang ingin dan nggak capek kerja. Hingga kini di tubuh Lita terkumpul total ada 15 tattoo beraneka ragam desain.

“Terakhir aku bikin tattoo nama nenekku, sekitar tiga bulan lalu. Yang lain ada namaku, nama mamaku, tema-tema pas dulu lomba, sama ini nih,” lanjut Lita sambil menunjuk gambar tattoo bentuk ‘love’ kecil di tangannya.

Saat awal bertattoo, pihak keluarga sempat melarang Lita. Karena tak ada di keluarganya yang bertattoo dan pandangan masyarakat yang cenderung negatif terhadap orang bertattoo, apalagi wanita. Namun Lita tak tak terpengaruh dan tetap hobi bertattoo.

“Selama nggak ngaruh ke kerjaan nggak masalah menurutku. Di tempat kerja yang dulu aku malah jadi best employee. Nggak ada hubungannya hobi tattoo sama kerjaan. Aku buktiin kalo bisa nyari duit sendiri, kuliah pake duit sendiri, nyekolahin adik, ngasih duit ke ortu juga. Jadi sekarang ortu paham dan nggak masalah kalo aku bertattoo,” katanya.

Dirinya menambahkan, seiring waktu tattoo jadi bagian dari seni selain hobi. Dan seni nggak dibayar murah.

“Kalau kamu juga bertattoo dan dipandang ‘sebelah mata’, buktiin ke lingkungan dan orang-orang di sekitarmu kalo itu nggak ngaruh apa-apa ke kinerjamu. Selama kamu bisa bawa imbas positif dan punya prestasi, mau kamu keluyuran atau bertattoo, nggak akan jadi alasan orang buat nge-judge kamu jelek,” pungkas Lita.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *