Berkah Manis Bisnis Aksesoris

Aneka kreasi aksesoris cantik karya Montase (Arind Reza/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Lulus kuliah ternyata tak serta merta membuat seseorang segera ingin bekerja untuk memperoleh penghasilan sendiri. Fikli misalnya, mahasiswi Unnes lulusan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa angkatan 2012 ini memilih membuka usaha aksesoris sebagai pengisi waktu luang sekaligus penambah penghasilan pasca lulus kuliah.

Berawal dari keisengannya mengamati kado yang dibawa pada saat hari wisuda yang rata-rata hanya buket bunga segar dan bunga flanel, ia berinisiatif untuk membuat bunga dari bahan pita.

Terlebih setelah browsing di media sosial dan menemukan bahwa pita yang dikreasikan menjadi bunga bagus dan cantik, masih jarang pembuatnya, dan tutorialnya mudah untuk pemula. Maka, bersama beberapa rekan kampus ia membentuk Montase pada tanggal 28 November 2016. Pilihan aksesoris yang dibuat jatuh kepada buket bunga dari pita.

“Habis lihat tutorial di Youtube, aku sama temanku dari Undip ngebentuk Montase. Dibantu sama teman dari Unnes juga, Mas Edo. Nah, nama Montase ini terinspirasi dari judul novel Windry Ramadhina yang judulnya sama, makanya di belakang Montase ini aku tambahin Local Indie Craft, biar ndak salah paham,” tutur Fikli.

Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), apabila dikaitkan dengan seni, kata montase berarti sekumpulan gambar atau benda yang dikaitkan dari beragam unsur untuk menghasilkan gagasan baru.

Sejalan dengan namanya, Montase kini tak hanya memproduksi bunga pita saja, namun ada juga bros, flower crown,  gelang, dan dream catcher. Dari segi hargapun terbilang cukup bervariasi dan terjangkau.

Untuk buket bunga harga berkisar Rp12.000,00-Rp80.000,00, gelang dijual Rp2.000,00-Rp5.000,00, dream catcher dibanderol Rp15.000,00-Rp70.000,00, flower crown sekitar Rp30.000,00, dan untuk bros pembeli cukup merogoh kocek Rp2.000,00 saja.

“Dulu cuma bikin bunga pita aja, sekarang Alhamdulillah udah nambah beberapa varian aksesoris. Soalnya dulu modal minim ‘kan jadi ya udahlah dikit-dikit dulu. Suatu hari ada seorang teman dari Unnes juga, namanya Mas Sidiq. Dia ngasih tambahan modal gitu ke Montase. Dari situ kami jadi terpacu buat bikin varian lain, jadilah sekarang ada flower crown dan lain-lain itu,” lanjut Fikli.

Sekalipun hanya usaha aksesoris yang terbilang sederhana, ternyata Fikli dan rekan-rekannya juga sering menemui kendala dalam mengelola pesanan Montase. Karena hanya beberap orang yang terlibat dalam proses produksi, Montase menerapkan sistem pra order dan special order untuk menyiasati pesanan yang menumpuk dan waktu pembuatan yang lebih lama.

Special order ‘kan dibuat berdasarkan pesanan pelanggan, baik dari segi warna maupun desain. Kadang tuh stok bahan baku yang ada ndak sesuai sama pesanan, sementara kas Montase lagi tipis dan belum bisa dipakai untuk restok. Jadi ya terkadang kami membatalkan pesanan kalau pelanggan ndak berkenan ditawari stok yang ada dengan kualitas sama tapi berbeda model dan warna,” ujar Fikli.

Dia juga menambahkan, keterbatasan area dagang dan belum adanya toko offline juga menjadi kendala lain yang dihadapinya. Sejauh ini yang bisa mereka lakukan untuk memasarkan produknya adalah mencari momen tepat untuk ngelapak.

“Misal pas wisudaan gitu dan promosi via akun medsos Montase @montase33. Harapan kami sih dengan canggihnya media promosi seperti sekarang, Montase tak cuma dikenal di Semarang tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *