LDII Jateng Kembangkan BMT dan Koperasi Syariah

img_20161126_112924_hdrSEMARANG (asatu.id) – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Tengah berupaya membangun penguatan perekonomian dengan sistem syariah. Saat ini sudah terbentuk 34 Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) dan Koperasi Syariah dibawah LDII Jateng dalam mengelola keuangan berbasis syariah sejak berdiri lima tahun yang lalu.

Ketua LDII Jateng, Singgih Tri Sulistyono menyampaikan, BMT dan Koperasi Sayraiah LDII berasaskan gotong royong dengan menerapkan transaksi dan aturan secara syariah yang disinergikan dengan peraturan perbankan syariah dan koperasi syariah oleh pemerintah.

“Ini kita adakan penguatan secara internal kepada semua BMT dan Koperasi Syariah terkait dasar-dasar transaksi syariah mengenai halal dan haramnya transaksi dari sisi agama Islam,” katanya disela seminar Pengembangan Lembaga Keuangn Syariah, di Grhadika Gubernuran Semarang, beberapa waktu lalu.

Dalam seminar, dikuatkan juga pembekalan untuk memahami dasar-dasar legalitas perundangan oleh pemerintah yang terkait dengan perkoperasian sehingga ada match antara dasar syaraiah agama dan legalitas dari sisi pemeerintah.

“Bukan hanya embel-embelnya saja yang syariah, tapi semua sistem menganut syariah dengan berbagi hasil dan berbagi resiko bersama. Sehingga kita turut membantu perekonomian negara lebih makmur bersama-sama,” katanya.

Saat ini angota BMT dan Koperasi Syariah di bawah LDII berangotakan sekitar 10 ribu orang tiap koperasinya. Adanya penguatan dasar-dasar transaksi syariah dan legalitas perundangan ini, pihaknya optimis bisa menaikan jumlah BMT dan Koperasi Syariah LDII menjadi dua kali lipat di 2017.

“Nilai permodalan tiap BMT dan Koperasi Syariah yang sudah lima tahun sekitar Rp 2 miliar dan ada ratusan juta di BMT yang baru merintis dengan likuiditas yang yang tinggi karena dinamisnya transaksi antara BMT dan kostumer,” ujarnya.

Sementara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap adanya BMT dan Koperasi Syariah yang dikelola LDII Jateng bisa menjadi bagian solusi dan bagian dari metode yang bisa dibagikan publik agar ada pilihan skema usaha dan skema ekonoimi dengan syariah.

“Perbankan syariah yang paling maju ada di London, seharusnya kita bisa karena kita negara dengan umat Islam terbesar, BMT dan Koperasi syaraiah LDII ini mudah-mudahan bisa berkembang lebih cepat. Jadi potensi-potensi pembiayaan, skema –skema bisnis yang bisa dilakukan saya kira bisa melalui lembaga keuangan syariah ini,” katanya.

Ganjar juga mendorong beberapa potensi keuangan syariah yang bisa dikelola seperti zakat, shodaqoh, infak, dan wakaf bisa dikelola dengan menggandeng pemerintah.

“Maka menjadi program pemerintah yang tidak terkover oleh anggaran negara ini, bisa dilakukan dengan cara ini. Termasuk independensi sistem bisbis yang ada di masyarakat. Saya kira ini akan sangat bagus sekali,” tukasnya.(Ib)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *