Meriah, Penari Kuda Lumping Perempuan di Panggung Kahanan #7

SEMARANG (Asatu.id) – Pertunjukan tari jaran kepang atau kuda lumping dalam Panggung Kahanan sesi 7 yang digelar di Komplek Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Senin (18/5), mengundang daya tarik tersendiri. Biasanya, kesenian yang dimainkan oleh kaum lelaki, kali ini dimainkan oleh perempuan.

Lima penari perempuan itu tergabung dalam Sanggar Tari Rawa Pening dari Ambarawa. Gestur tubuhnya enerjik, begitu juga saat memainkan kuda lumpingnya. Mereka mengusung lakon Laskar Nyi Gadung Melati.

Nyi Gadung Melati diyakini warga Kabupaten Semarang sebagai cikal bakal. Sehingga tarian yang diciptakan salah satunya untuk melestarikan cerita tersebut.

Ketua Paguyuban Kendali Sodo, yang menaungi Sanggar Tari Rawa Pening, Sudarso Sukristanto menuturkan bahwa Nyi Gadung Melati adalah legenda yang dihormati di daerahnya.

“Nyi Gadung Melati itu legenda tapi benar-benar ada sejarahnya, karena makamnya juga ada. Ia merupakan cikal bakal di daerha kami,” ujarnya.

Sehingga, Paguyuban Kendali Sodo mencoba melestarikan sekaligus mengenalkan cerita sejarah itu melalui kesenian kuda lumping.

“Kami membentuk kesenian kuda lumping ini salah satunya untuk melestarikan cerita Nyi Gadung Melati,” paparnya.

Dalam Panggung Kahanan kali ini juga dimeriahkan kesenian tari Sekar Mayang yang dibawakan oleh Asri Mawasti Studio. Tak kalah menarik, juga penampilan SMG48 band, Vandemi Band, Sangkala Band dengan lagu Iwan Fals.

Selain itu, pembacaan puisi dari sejumlah penyair seperti Timur Sinar Suprabana, Fransisca Ambar K, dan Imam Subagyo.

Sementara Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menuturkan bahwa Panggung Kahanan diciptakan untuk memberi ruang bagi seniman agar tetap berkarya di tengah pandemi.

“Bentuknya kesenian daring. Jadi Panggung Kahanan ini bisa disaksikan di live YouTube, Instagram dan juga Satelit TV,” jelasnya.

Ditambahkannya, panggung ekspresi tersebut diwarnai berbagai genre kesenian, terutama yang ada di Jawa Tengah.

“Panggung Kahanan untuk semua genre kesenian. Ada kesenian tradisi, teater, musik, tari dan sastra,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *