Dirayu Gubernur, Mbah Jumadi Tetap Tak Mau Pindah ke Panti


UNGARAN (Asatu.id) – Rumah berukuran 3×3 meter itu berdiri di pinggir sawah di Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Di dalamnya, tinggal seorang kakek tua renta yang sudah pikun dan juga rabun.

Mbah Jumadi namanya. Kakek berusia 85 tahun itu sehari-hari tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, karena kecil dan berdinding tripleks dan beratap asbes.

Kondisi Mbah Jumadi membuat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tergugah. Usai berkeliling ke sejumla lokasi di Kabupaten Semarang, Ganjar menyempatkan mampir menengok kondisi Mbah Jumadi.

Saat Ganjar datang, Mbah Jumadi masih duduk di dalam rumahnya. Kondisi rumah yang sempit, membuat Ganjar kesulitan untuk mengobrol. Akhirnya, Ganjar berinisiatif untuk mengajak Mbah Jumadi ngobrol di luar.

Selain memastikan kondisi Mbah Jumadi, kedatangan Ganjar juga bertujuan merayu agar Mbah Jumadi mau tinggal di Panti Sosial milik pemerintah di Ungaran. Namun, tawaran dan rayuan Ganjar tak dituruti Mbah Jumadi. Ia bersikukuh tinggal di rumah sederhannaya itu.

“Purun nggeh manggon teng Ungaran (Panti Sosial), mangke enak, kathah rencange. Mangan yo enak, gratis (mau ya tinggal di Ungaran, nanti di sana enak. Banyak temennya. Makan juga enak, semuanya gratis),” rayu Ganjar.

Ganjar juga berjanji akan membelikan Mbah Jumadi sarung, baju baru dan juga berbagai kebutuhannya. Namun tawaran itu ditolak Mbah Jumadi.

“Mboten, kulo tak manggon mriki mawon (tidak mau. Saya mau tinggal di sini saja). Nek manggon liyane, kulo cepet mati (kalau tinggal di tempat lain, nanti cepet meninggal),” jawab Mbah Jumadi.

Ganjar tak berhenti untuk terus merayu. Berbagai iming-iming diberikan, termasuk candaannya bahwa di panti banyak janda cantik.

“Mboten pengen rabi maleh (tidak mau menikah lagi). Ning panti kathah rondo mbah (di Panti Sosial banyak janda),” candanya.

Namun seberapapun Ganjar merayu, selalu ditolak Mbah Jumadi. Usut punya usut, Mbah Jumadi adalah penganut Kejawen yang tidak akan pernah mau meninggalkan rumahnya.

“Dia itu tidak mau pergi alasannya karena seluruh keluarganya meninggal di desa itu. Kalau dia pergi, katanya siapa yang mendoakan,” kata Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Jarwanto.

Sudah tak terhitung orang-orang merayu Mbah Jumadi. Mulai Kepala Desa, Camat, Bupati hingga saat ini Gubernur.”Tapi tetap tidak mau. Mbahnya tidak mau meninggalkan tempat kelahirannya,” imbuhnya.

Hal itulah yang membuat warga pasrah. Warga hanya bisa membangunkan rumah sederhana, memberikan makanan, pakaian serta uang.

“Kondisinya sehat, hanya memang sudah lansia. Kami selalu mengawasi bersama-sama,” imbuhnya.

Ganjar sendiri mengatakan, Mbah Jumadi memang sudah tidak bisa dirayu untuk tinggal di Panti. Sebab, kepercayaan yang dianutnya membuat dirinya tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya.

“Dia bersikukuh harus tinggal di sini, kalau tinggal di daerah lain, tidak dapat mendoakan untuk keluarganya. Ya ini memang sudah sulit,” kata Ganjar.

Ganjar hanya berpesan kepada Kades, TKSK dan masyarakat untuk lebih peduli. Ia berharap, segala kebutuhan Mbah Jumadi sehari-hari dapat dipenuhi dengan baik.

“Saya juga minta tempat tinggalnya dibersihkan, kesehatan dicek terus dan dipastikan mendapat kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah Pak Kades, TKSK dan warganya peduli,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *