Kepala Sekolah Sambut Baik Rencana Sekolah Inklusi


SEMARANG (Asatu.id) – Sebanyak 33 kepala sekolah mengaku siap menjadikan sekolahnya sebagai sekolah inklusi, sisanya mengaku belum siap. Hal itu dikatakan para kepala sekolah ketika ditanya Gubernur Ganjar Pranowo saat melantik 170 kepala sekolah SMA/SMK/SLB negeri di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jumat (28/2).

Kepala Sekolah SMK Jateng di Semarang, Sriyono, mengaku siap menjalankan sekolah inklusi. Bahkan dua tahun terakhir, sekolahnya sudah mendidik dua siswa tunarungu.

“Menjadi sekolah inklusi memang sulit. Kami butuh pendamping yang bisa menerjemahkan secara langsung dialog guru dan siswa berkebutuhan khusus. Selama ini kami tidak ada guru pendamping yang khusus. Penerjemahnya ya teman sebaya yang membantu menerjemahkan sekaligus menjadi guru kedua untuk siswa kami yang tunarungu,” kata Sriyono.

Sementara, Kepala Sekolah SMAN 1 Watumalang Wonosobo, Sri Muryanti, mengakui sekolahnya belum siap menjadi inklusi. Selain karena akses menuju sekolah yang dirasa kurang memadai untuk siswa berkebutuhan khusus, terutama yang tunadaksa, sekolah ini juga belum memiliki guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus.

“Kami kesulitan mengangkat GTT karena terkendala aturan dari pemerintah,” kata Sri.

Terkait masukan dari kepala sekolah, Ganjar berjanji akan berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pendidikan agar diperbolehkan mengangkat GTT pendamping siswa berkebutuhan khusus. Sebab menurutnya, pengangkatan guru pendamping anak-anak berkebutuhan khusus adalah cara paling efektif untuk menuju inklusi.

“Kalau masalahnya tidak ada guru pendamping, sekolah silakan angkat guru tidak tetap (GTT) yang memang ahli menangani anak berkebutuhan khusus. Soal regulasi, biar itu urusan saya,” tandas Ganjar.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *