Komisi C DPRD Jawa Tengah Sarankan Bank Jateng Cabang Yogyakarta Memperbaiki Performa

SEMARANG (Asatu.id) – Performa Bank Jateng Cabang Yogyakarta mendapat sorotan dari Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah. Bahkan jika dianggap tidak menguntungkan, para wakil rakyat itu melontarkan masukan untuk ditutup saja.

Dalam kunjungan kerjanya ke Yogyakarta, Senin (24/2), rombongan Komisi C yang dipimpin Ketua Komisi Asfirla Harisanto, mendengarkan paparan langsung dari Pemimpin Bank Jateng Cabang Yogyakarta, Sulton Syarif.

Berdasarkan data laporan kinerja Bank Jateng Cabang Yogyakarta per 31 Desember 2019, lembaga keuangan plat merah ini terus mengalami kemerosotan. Tahun pertama merugi merugi Rp1,6 miliar dan periode berikutnya yakni sepanjang 2019 rugi Rp 17,6 miliar.

Bahkan Bank Jateng Cabang Yogyakarta mencatatkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sebesar 12,14 persen. Angka ini lebih tinggi dari batas maksimal yang ditentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 5 persen.

Fakta lain yang terungkap adalah penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Jika pada 2018 total DPK yang dihumpun Rp 444 miliar pada periode 2019 turun menjadi Rp286 miliar.

Pemimpin Bank Jateng Cabang Yogyakarta, Sulton Syarif menjelaskan, dirinya memang mendapat tugas berat sejak enam bulan ini bertugas untuk membenahi performa perusahaan. Realisasi penghimpunan Giro hanya tercapai Rp37 miliar dari rencana Rp148 miliar.

Kondisi tersebut disebabkan karena pada awalnya estimasi dana Giro tersebut dari pengendapan kredit proyek sedangkan kredit proyek 2019 sangat dibatasi hanya APBD non APBN.

“Terget operasional minus Rp9 miliar akan tetapi pada pelaksanaannya mengalami kerugian sebesar minus Rp17, 5 miliar. Hal ini disebabkan karena pembentukan biaya CKPN sebesar kredit macet dengan saldo Rp14, 7 miliar,” imbuhnya.

Sebagian besar kucuran kredit disalurkan untuk pengerjaan proyek pembangunan. Namun hal itu juga yang saat ini membuat NPL Bank Jateng cabang Yogyakarta membengkak.

Setidaknya ada tiga perusahaan yang menunggak atau mengalami kredit macet dengan nilai pinjaman ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Anggota Komisi C DPRD Jateng, Nur Khabsin menyarankan, jika di usia ketiga tahun nanti Bank Jateng Cabang Yogyakarta masih tetap saja merugi maka ia menyarankan supaya Bank Jateng Cabang Yogyakarta lebih baik ditutup saja.

Pasalnya, sejak dua tahun perusahaan melakukan ekspansi bisnis di Yogyakarta tepatnya mulai resmi beroperasi 17 Januari 2018, performanya terus mengalami penurunan parah.

“Dulu di Cabang Jakarta, sekarang di Jogja. Jangan-jangan Bank Jateng ini hanya jago kandang saja. Kalau tiga tahun masih kayak begini rekomendasikan ditutup saja,” imbuhnya.

Anggota Komisi C DPRD Jateng lain, Nurul Hidayah menyoroti akses Bank Jateng, terutama masalah masih minimnya keberadaan ATM. Ia bercerita pengalaman dirinya yang merasa kesulitan untuk mencari keberadaan ATM saat berkunjung ke suatu daerah di Jawa Tengah.

Meskipun saat ini sudah ada sistem ATM bersama, namun keberadaan mesin ATM dibutuhkan sebagai media promosi maupun menarik hati masyarakat untuk menjadi nasabah.

“Kalau ATMnya saja susah bagaimana bisa menarik hati calon nasabah. Apalagi bersaing dengan Bank lain,” ujarnya, Senin (24/2).

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Jateng, Asfirla Harisanto terlihat masih memberikan toleransi terkait performa Bank Jateng Cabang Yogyakarta. Namun jika ke depan masih tidak ada perubahan positif bukan tidak mungkin dilakukan tindakan tegas seperti rekomendasi penutupan maupun upaya penyelamatan lain.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *