Gemblong Cothot ‘Djadul’ Pak Yono Siap Menasional

UNGARAN (Asatu.id) – Meski saat ini telahmemasuki zaman ‘now’, bukan berarti keseluruhannyajuga harus ‘now’. Budaya Jawa yang adiluhung, tetapharus dipertahankan. Begitu pula dengan makanantradisional, juga tidak boleh dilupakan.

Makanan khas daerah misalnya, hingga kini masih sajadiminati banyak masyarakat. Bahkan makanan khastersebut sering dijadikan buah tangan dan menjadikebanggan dari daerah asalnya.

Begitu pula dengan jenis makanan khas KabupatenSemarang. Selain terkenal dengan tahu baksonya, gemblong cothot juga tidak kalah menariknya. Banyakmasyarakat luar kota yang sengaja datang keBandungan, hanya untuk mencari gemblong cothot.

Suyono (42), warga Dusun Gemawang Krajan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, adalah salahsatu yang memproduksi makanan gemblong cothottersebut. Hanya saja, gemblong cothot made ini masYono ini lain dari pada yang lain. Karena carapembuatannya terlebih dahulu dimasukkan ke dalamfrezer, sehingga saat digoreng terasa lebih renyah.

Kalau langsung digoreng, rasanya kurang enak. Itusebabnya, gemblong produk kami keseluruhannyadimasukkan ke dalam frezer terlebih dahulu,” tuturnyaketika ditemui dikediamannya, Kamis (13/2).

Suyono yang belum ada satu tahun memproduksimakanan khas dengan merekDjadulini, tidakmenjual produknya dalam bentuk matang (sudahdigoreng). Namun masih berbentuk mentah. Makananitu dikemas dalam plastik yang terbagi dalam duaukuran. Yakni isi 12 seharga Rp 10 ribu dan isi 20 seharga Rp 15 ribu.

Dagangan itu sengaja dikemas untuk dijadikan buahtangan para pelancong, di samping bisa juga dinikmatiwarga Kabupaten Semarang dan sekitarnya. “Yang jelas, kalau makanan itu berada diluar frezer hanyabertahan sehari. Tapi kalau disimpan difrezer ataualmari es, bisa bertahan satu bulan lebih,” tandasnya.

Makanan yang bahan bakunya terbuat dari bahan bakuketela pohon, gula dan garam ini, dipasarkan secaraonline. Selain itu, juga tersedia dibeberapa outlet diwilayah Kabupaten Semarang dan sekitarnya.

Saat ini omzet penjualan perbulan, diakui belum begitubanyak. Hanya berkisar 1.000 bungkus. Namun diaoptimistis. Produknya itu nantinya akan dapatberkembang pesat. Dia yang kini dalam binaan PT Telkom Divre Jateng, akan terus meningkatkanpasarnya tidak saja ditingkat lokal, namun siap untukmelangkah ke tingkat nasional.

Terbukti outlet yang ada di luar daerah pun selalukehabisan stok. Di samping pembelian secara online, juga datang dari berbagai kota di Jateng. Bahkan ada diantaranya yang dari Jakarta dan Bandung,” tuturnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *