Rumah Atsiri, Pabrik Minyak Wangi Rintisan Bung Karno yang Dihidupkan Kembali

KARANGANYAR (Asatu.id) – Seratus tanaman wangi-wangian  terhampar di Rumah Atsiri, sebuah eduwisata di bekas pabrik minyak wangi di kaki Gunung Lawu, Karanganyar.

Meski sempat mati puluhan tahun, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap pengelola bangunan bekas pabrik minyak yang diinisiasi oleh Bung Karno di tahun 1963 itu, mampu melakukan lompatan dengan menciptakan narasi yang kuat.

Ganjar tiba di Rumah Atsiri, di Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu Karanganyar, Rabu (12/2) sekitar pukul 14.15 WIB. Gerimis yang mengguyur dan disertai angin lembut di daerah kaki Gunung Lawu itu membuat Ganjar tergesa turun dari mobil. Namun baru berjalan beberapa meter dari mobil, Ganjar tiba-tiba berhenti sambil mengendus-endus.

“Ini aroma Rosemary, Pak. Dari sekian banyak tanaman Atsiri, Rosemary yang beraroma paling kuat. Ini aromanya semakin kenceng kalau digoyang-goyangkan,” kata Natasha Clairina, Direktur Rumah Atsiri Indonesia.

Tanaman Atsiri merupakan tanaman yang memberikan aroma yang khas dan bisa diolah menjadi minyak. Atsiri atau wangi-wangian itu dapat ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman.

Semua tanaman yang mengeluarkan aroma khas tersebut ada di Rumah Atsiri Indonesia yang terletak di Tawangmangu tersebut yang memiliki lima gedung. Museum, greenhouse, toko, produksi dan lobi.

Seluruh bangunan yang saat dikembangkan sebagai salah satu objek wisata unggulan, memang mempertahankan keasliannya dengan beberapa penyesuaian.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *