Memahami Program Rumah Sakit Tanpa Dinding dan Menunggu Gebrakannya

SEMARANG (Asatu.id) –Gebrakan yang pernah dicanangkan Pemprov Jateng tentang program rumah sakit tanpa dinding terus mendapat respon positif. Program itu dimaksudkan supaya ada layanan yang maju tanpa sekat dalam hal pelayanan kesehatan.

Dengan program itu peran rumah sakit diharapkan tidak terbentur pada ruang-ruang melainkan justru makin terus berinovasi.

Hal ini mengemuka dalam acara Dialog Bersama Parlemen: “Rumah Sakit Tanpa Dinding” yang berlangsung di Ruang Bahana Hotel Normans, Semarang, Kamis (13/2).

Dalam diskusi yang dipandu moderator Prast, tampil tiga nara sumber, yakni Ketua Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dokter Yulianto dan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip Dr Budiyono.

Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid menandaskan, secara prinsip program Rumah Sakit Tanpa Dinding yang digagas Pemprov Jateng harus didukung. Dan secara kelembagaan, DPRD sebagai mitra kerja Pemprov pun tidak mempermasalahkan program tersebut sepanjang bermanfaat buat masyarakat.

“Sekilas mendengar rumah sakit tanpa dinding membingungkan, namun setelah membaca dan memahami baru dimengerti bahwa program itu untuk mengembalikan fungsi pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ucap Abdul Hamid.

Politikus PKB itu juga mengatakan, rumah sakit tanpa dinding harus bisa mendukung puskesmas di daerah karena masih ada 881 puskesmas yang kekurangan tenaga medis.

“Tenaga kerja di Puskesmas di Jateng 881, dari data BPS, yang tenaga kesehatannya kurang. Puskesmas itu kan layanan awal di masyarakat, harapannya bisa jadi layanan akhir. Terkait rumah sakit tanpa dinding bisa secara maksimal, rumah sakit harus bergerak terutama yang punya Jateng,” kata Abdul.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dokter Yulianto menuturkan, konsep Rumah Sakit Tanpa Dinding ini bersifat komprehensif. Mulai dari usaha preventif, kuratif sampai rehabilitasi. Hal ini sesuai dalam prioritas dan visi misi gubernur.

Program dari Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang menginginkan rumah sakit tanpa dinding, tutur Yulianto, patut didukung dan siap untuk direalisasikan.

Selama ini, lanjut dia, rumah sakit tanpa dinding lebih banyak dimainkan perannya dari Puskesmas. Karena keterbatasan tenaga kesehatannya, menjadikan pelayanan kesehatan belum banyak dirasakan masyarakat.

Oleh karena itu, Yulianto mendorong peran rumah sakit lebih proaktif memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka pelayanan kesehatan lebih maksimal.

Sebab, kata Yulianto, rumah sakit tidak hanya sekadar mengobati orang sakit, tapi juga bisa mencegah penyebaran penyakit. Baik penyakit menular atau penyakit tidak menular.

“Rumah sakit tanpa dinding itu arti kiasan bukan arti sebenarnya. Maksudnya tidak ada sekat-sekat, dan melakukan upaya kesehatan yang bersifat promotif preventif. Yaitu mencegah jangan sampai masyarakat itu sakit. Di rumah sakit itu kan tenaga ahlinya, sayang kalau hanya untuk mengobati saja,” kata Yulianto, belum lama ini.

Dari program ini, pembicara lain, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip Dr Budiyono berharap, pemerintah segera mengubah persepsi mengenai program rumah sakit tanpa dinding tersebut. Niat baik belum tentu diterima secara utuh oleh masyarakat.

“Polanya bagaimana, harus jelas. Jangan sampai bersifat politis,” ucapnya.

Budiyono juga memaparkan, program Rumah Sakit Tanpa Dinding tujuan akhirnya adalah menjadikan masyarakat mandiri atau berdikari.

“Cuma untuk menjangkau masyarakat pelosok itu juga butuh peran serta masyarakat, dan sektor lainnya seperti swasta, akademisi. Istilahnya dikenalkan dulu, dilaksanakan, dan menjadi kebiasaan. Jika program ini ingin dilaksanakan sebaik mungkin juga butuh tahapan, seperti pelatihan, praktek, hingga keahlian,” pungkasnya.(adv)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *