Hadapi Bencana Butuh Edukasi dan Sinergitas dengan Kelompok Sukarelawan

BOYOLALI (Asatu.id) – Komisi E DPRD Jateng menekankan arti penting mitigasi kebencanaan. Dengan demikian bencana alam yang datang sewaktu-waktu bisa diantisipasi secara dini serta meminimalisasi jumlah korban.

Terpenting pula edukasi kebencanaan bagi siswa tingkat dasar, menengah pertama sampai menengah atas.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan Komisi E dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali di Ruang Lembu Sora, kompleks Kantor Bupati, Selasa (7/1). Rombongan DPRD diterima Kepala BPBD Bambang Sinung Raharjo. Turut pula hadir Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Jateng Imam Masykur, serta perwakilan PMI Boyolali.

Dalam pertemuan itu, Ketua Komisi E Abdul Hamid mengemukakan, pihaknya ingin mengetahui sejauh mana kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana alam. Karena itu menjadi hal terpenting yang disiapkan adalah soal personel, sarana dan prasarana, serta pemetaan bencana.

“Saat bencana datang, apa yang perlu dilakukan, tindakan apa supaya masyarakat bisa merasakan kehadiran pemerintah,” jelas politikus PKB itu.

Bambang Sinung Raharjo menjelaskan, mitigasi bencana sudah dilakukan oleh daerah. Kebencanaan di Boyolali yang perlu mendapatkan penindakan adalah mengenai Gunung Merapi, kemarau dan hujan.

“September 2019 kemarin, Gunung Merapi sempat berstatus siaga. Ada tiga desa masuk rawan bencana Merapi yakni Selo, Cepogo, dan Musuk. Ketiga desa masuk perhatian lebih manakala Gunung Merapi berstatus awas,” ucapnya.

Belum untuk bencana tanah longsor ada delapan desa rawan bencana, selanjutnya banjir dan kekeringan. Bahkan, kata Sinung, puting beliung atau lisus pada Desember kemarin sempat merusak beberpa rumah. Pada awal Januari ini, bencana banjir, tanah longsor, puting beliung menjadi perhatian serius.

Anggota Komisi E, Jasiman, di sela-sela pertemuan itu menyoroti soal sinergitas BPBD dengan kelompok-kelompok sukarelawan. Bagi dia, membangun jaringan dengan kelompok sukarelawan sangat penting agar penanganan bencana menjadi cepat.

Sementara anggota Komisi E lain, Endrianingsih Yunita turut menyoroti soal edukasi bencana kepada anak-anak. Bagi dia, sangat penting bagi anak-anak saat ada bencana alam datang.

Menjawab pertanyaan itu, Sinung mengungkapkan, sinergitas dengan kelompok sukarelawan sudah berjalan baik. Sekarang sudah ada 78 kelompok bergabung dalam BPBD. Setiap tahun ada jambore yang mempertemukan kelompok-kelompok tersebut. Soal edukasi kepada anak-anak, dalam setahun ada pertemuan dengan SD, SMP masing-masing tiga kali dalam setahun.

“Belum lama ini mengedukasi anak-anak di lereng Merapi supaya ada tindakan saat ada bencana dari Gunung Merapi,” ucapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *