IAIN Salatiga Minta Dukungan Alih Status

SALATIGA (Asatu.id) – Sebagai upaya pengembangan kelembagaan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga kini masih bergelut dengan alih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Untuk itu, pihak rektorat IAIN meminta dukungan politik kepada DPRD Provinsi Jateng agar alih status tersebut segera terealisasi.

Hal itu disampaikan oleh Rektor IAIN Salatiga Zakiyuddin saat memberikan sambutan pembukaan acara Focus Group Discussion (FGD) di Gedung KH. Hasyim Asyari IAIN Salatiga, Senin (23/12). Tema yang diambil dalam FGD tersebut yakni Pengembangan Kelembagaan dan Transformasi IAIN ke UIN.

Hadir sebagai narasumber, Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto dan Ketua DPRD Salatiga, Dance Ishak Palit.

Pada kesempatan itu, Rekor Zakiyuddin menilai, dukungan secara politik perlu dilakukan untuk memperlancar proses alih status IAIN menjadi UIN. Diharapkan, DPRD Provinsi Jateng dan Kota Salatiga bersedia memberikan dukungannya, baik berupa saran/masukan dan keterlibatan dalam hal alih status tersebut.

“Proses alih status, dibanding IAIN lain cukup terlambat. Meski begitu, saya harapkan pada 27 Desember (IAIN) bisa menjadi UIN. Sebelumnya, IAIN bernama STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri). Sejak beralih status dari STAIN ke IAIN, dampaknya mengalami peningkatan yang signifikan dalam penerimaan mahasiswa baru, yang setiap tahunnya sekitar 2000-an mahasiswa, Saat ini, angkanya naik lagi jadi 3.000-an mahasiswa. Total sekarang, jumlah keseluruhan sebanyak 15.007 mahasiswa. Dengan meningkatnya jumlah mahasiswa itu, maka kami juga memberikan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Selain itu, ada efek pereknomian yakni dengan semakin bertambahnya mahasiswa di Kota Salatiga, maka perekonomian seperti usaha kuliner dan kos-kosan juga semakin ramai,” paparnya.

Ia juga mengungkapkan mengenai prestasi IAIN Salatiga, yang sekarang ini menjadi urutan ketiga nasional IAIN. Prestasi lainnya, lanjut dia, secara akademik telah berhasil pula mengangkat nama baik Kemenag melalui jurnalnya.

“Mudah-mudahan ke depan, alih status tersebut mampu menjadi universitas yang inklusif. Kami berharap juga, dengan berubahnya status itu, bisa menambah mahasiswa yang tidak hanya berasal dari kalangan muslim semata,” harapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *