Pelajar Kampanye Antikorupsi, Bertebaran Poster Penuh Kreasi

SEMARANG (Asatu.id) – Dengan suara lantang, Intan Latifah Nur Atmodjo, menyampaikan orasi tentang antikorupsi di depan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan ribuan peserta yang hadir pada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) Tingkat Provinsi Jawa Tengah di depan Kantor Gubernur Jateng, Minggu (8/12).

Siswa SMAN 1 Purwanegara itu sangat bersyukur karena berkesempatan untuk menyampaikan aspirasi bersama lima orang teman lainnya untuk mewakili pelajar yang ada di Jawa Tengah.

“Alhamdulillah sekali saya bisa mewakili dari suara-suara generasi muda. Dan sebelum saya orasi sebenarnya saya sudah bertanya-tanya apa sih aspirasi temen-teman. Jadi saya berusaha untuk mewakili,” ungkapnya ketika ditemui usai acara berlangsung.

Gadis yang akrab disapa Intan ini mengaku tidak melakukan persiapan yang berlebih ketika ditunjuk untuk berorasi pada peringatan Hakordia tahun ini. Dia hanya mencari fakta tentang kejadian korupsi untuk kemudian dijadikan bekal dalam materi orasi yang disampaikan.

Menurutnya, Indonesia saat ini adalah bangsa yang besar, sudah banyak orang cerdas namun masih kekurangan orang yang jujur. Salah satu penyebab korupsi, lanjut Intan, karena integritas yang rendah. Untuk itu dia berharap agar generasi muda menanamkan jiwa antikorupsi pada diri sendiri bahwa korupsi adalah tindakan yang jahat. Generasi muda inilah yang berperan untuk terhindar dari korupsi.

“Walaupun kita masih muda, tetapi jiwa semangat kita membara. Kita sebagai penerus dari bangsa ini mengajak seluruh jajaran untuk memerangi korupsi. Antikorupsi ora gur ning lambe, tapi ning laku (tidak hanya di mulut tapi juga tindakan),” tegas Intan.

Dwi Daryaso, guru SMAN 1 Ambarawa yang turut hadir mendampingi siswa-siswanya menyambut baik semangat siswa untuk antikorupsi. Salah satunya, dengan datang tepat waktu. Guru pun harus tepat waktu dalam melaksanakan pembelajaran. Pola semacam itu sudah diterapkan di sekolahnya.

“Kami menempatkan hukum agama di atas hukum segalanya. Jadi kami hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa karena tidak ada agama yang membenarkan korupsi,” ungkap guru yang akrab disapa Pak Jo ini.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengingatkan agar para guru jangan marah jika anak didik menjadi kritis dan ikut mengawasi. Ganjar justru meminta para guru agar selalu transparan.

“Kalau komite rapat, kalau mau bicara ada iuran, sampaikan secara terbuka. Dan yang miskin jangan pernah dimintai pungutan, mereka yang tidak mampu harus gratis, saya yang jamin,” ungkap mantan anggota DPR RI ini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *