Diduga Gelapkan Aset Kelenteng, Go Tjong Ping Di Polisikan

TUBAN (Asatu.id) – Koordinator Kebaktian Agama Konghucu Kelenteng Tuban, Bambang Djoko Santoso mengatakan, terkait kasus kepengurusan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban pihaknya telah melaporkan Mantan ketua umum Kelenteng Tuban Go Tjong Ping (Teguh Prabowo) dan Budi Djaya Wilyono, mantan wakil ketua ke Polres Tuban.

“Mereka berdua kita laporkan ke Polres Tuban atas dugaan penggelapan sertifikat tanah milik yayasan kelenteng,” kata Bambang Djoko S, Minggu (1/12/2019).

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan, ada 22 sertifikat tanah dibeli dengan menggunakan uang yayasan kelenteng. Namun, kenyataannya sertifikat itu direkayasa sehingga menjadi atas nama pribadi, yakni Go Tjong Ping.

Menurut dia, perbuatan itu diketahui setelah terjadi pemilihan pengurus dan penilik yang dinilai melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kelenteng Oktober 2019.

“Dari acara pemilihan itu diketahui harta atau aset yayasan berupa tanah diatasnamakan Go Tjong Ping dan Budi Djaya Wilyono,” ungkapnya.

Hingga saat ini semua sertifikat tersebut belum dikembalikan ke yayasan. Bambang menegaskan perbuatan itu melanggar Undang-Undang Yayasan nomor 16 tahun 2001 di mana tidak diperbolehkan sesuatu milik yayasan diatasnamakan pribadi.

“Kita minta semua aset itu dikembalikan ke yayasan, dan perkara ini diproses sesuai aturan hukum yang berlaku,” paparnya.

Menanggapi hal itu, Go Tjong Ping (Teguh Prabowo) mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui terkait adanya laporan tersebut.

“Tidak ada surat panggilan dari kepolisian, saya belum mengetahui soal laporan itu,” kata Teguh yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan.

Disisi lain, penasihat hukum pelapor, Yudi Wibowo Sukinto, menyatakan modus pengalihan aset senilai Rp 200 miliar itu terstruktur dan masif.

Praktisi hukum dari kantor pusat bantuan hukum Triratna Surabaya itu menambahkan, kekayaan yayasan, badan hukum yang menaungi kelenteng setempat tidak boleh dialihkan atau dibagikan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pembina, pengurus, dan pengawasnya.

Go Tjong Ping, lanjut Yudi, diduga mengalihkan status yayasan menjadi badan. Pengalihan itu melalui kantor notaris dan pejabat pembuat akta tanah Yangki Dwi Yantohadi, Tuban.

”Apa substansinya mengubah yayasan menjadi perkumpulan. Ini jelas modus,” ungkapnya.

Yudi menuturkan kalau aset 22 bidang tanah milik kelenteng terbesar di Asia Tenggara itu tidak dibalik namakan menjadi milik yayasan TITD, dikhawatirkan kalau Go meninggal dunia maka aset tersebut diwariskan kepada keluarganya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *