#JedaUntukIklim, Aksi Warga Kota Semarang atasi Krisis Iklim

SEMARANG (Asatu.id) – Terjadinya krisis iklim saat ini yang melanda beberapa kota di seluruh dunia, Komunitas Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) adakan Long March bertajuk #JedaUntukIklim, Jumat (29/11).

Koordinator Komunitas Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Ellen menjelaskan, aksi warga Semarang yang dilakukan pada hari ini adalah bentuk kesadaran masyarakat tentang krisis iklim dan mendorong pemerintah untuk menerbitkan/melaksanakan kebijakan kongkrit untuk mengatasi krisis iklim.

Aksi ini di mulai dari Tugu Muda dan berakhir di depan Kantor Balaikota Semarang.

“#JedaUntukIklim Semarang sudah diadakan dua kali. Yang pertama tanggal 22-29 September 2019. Yang kedua hari ini tanggal 29 November 2019”, ujarnya.

Tujuan dari diadakannya aksi tersebut perlunya kesadaran masyarakat terhadap krisis iklim yang sudah sangat serius dan semua masyarakat harus bisa bertindak sebelum Semarang tenggelam, atau manusia mengalami kepunahan massal.

“Meskipun krisis iklim ini isu global, tapi penanganannya harus dilakukan dari tingkat lokal. Kita sebagai warga Semarang ingin menyampaikan aspirasi pada Wali Kota Semarang. Ada beberapa butir aspirasi yang disampaikan,” lanjutnya.

Dalam melakukan aksi tersebut Ellen mengajak masyarakat dan para remaja sebagai wakil generasi muda Semarang turut berperan dalam mendukung aksi tersebut.

Beberapa remaja menjadi wakil untuk menyampaikan surat kepada Wali Kota yang berisi permintaan adanya kebijakan konkrit di lingkup Kota Semarang sebagai bagian dari upaya mengerem laju krisis iklim.

Aksi ini juga ditujukan untuk seluruh masyarakat agar menjaga bumi tempat mereka tinggal. Ellen juga meminta agar seluruh lapisan masyarakat dapat bergabung menjadi bagian dari Komunitas Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima).

“Aksi #JedaUntukIklim dilakukan lintas organisasi, komunitas, dan individu. Kami bergabung dalam Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima). Kami berharap warga kota lain yang sama-sama peduli tentang masa depan planet kita dan umat manusia, termasuk keluarga dan anak-cucu kita, untuk bergabung ke dalam jejaring ini. Makin banyak yang bergabung, suara kita akan makin didengar,” urainya.

Komunitas Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) ini juga sudah banyak melakukan kegiatan sebagai bentuk rasa peduli terhadap adanya krisis iklim yang terjadi. Kegiatan ini juga ditujukan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga iklim.

““Kami sudah melakukan rangkaian diskusi tentang krisis iklim, festival peduli alam, dan dua kali climate strike. Ke depannya masih ada lagi aneka kegiatan edukasi dan advokasi untuk mendorong pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengatasi krisis iklim.”, tukasnya. (Maya Sari)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *