=patjarmerah Semarang Resmi Dimulai, Bicara Buku Anak, Fotografi, Hingga Sejarah Bangsa

SEMARANG (Asatu.id) – festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara resmi akan dimulai. Membawa lebih dari satu juta buku dengan harga terjangkau, dan lebih dari 50 sesi diskusi maupun lokakarya, festival literasi yang sering disebut sirkus keliling ini, untuk pertama kalinya akan diadakan di kota Semarang.

Selama sepuluh hari, hingga 8 Desember mendatang, festival ini akan digelar dan dipusatkan di kawasan Kota Lama Semarang. Soesman Kantoor dan Monod Diephois & Co akan menjadi pusat acara literasi keliling nusantara ini.

Tema utama patjarmerah di Kota Lama Semarang ini adalah “Sang Pembelajar – Kami yang Menolak Lupa”.

Tema ini dipilih karena Semarang adalah salah satu pusat kebangkitan kaum terpelajar sejak zaman kolonial dulu. “Semarang adalah kota penting yang kami singgahi, Semarang memberi spirit belajar terus menerus seperti yang pernah dicatat sejarah”, ungkap Windy Ariestanty, salah satu inisiator patjarmerah.

Sebelum ke Semarang, sebelumnya patjarmerah telah memulai di Jogjakarta, Malang dan Jakarta.

Pada sesi pertama di pukul 14.00 WIB, Reda Gaudiamo, penulis cerita anak yang karyanya telah diterbitkan juga dalam Bahasa Inggris ini akan tampil mengisi lokakarya.

Lokakarya akan berisi pemaparan Reda tentang proses bagaimana ia menulis, kendala, hambatan, dan berbagi motivasi serta kita menyelesaikan cerita anak. Sesi kemudian akan dilanjutkan oleh Marrysa Tunjung Sari dalam sesi “Fotografi: Foto Bercerita”.

Marrysa adalah seorang fotografer yang kerap menjadikan seni fotomenjadi sebuah alat atau cara untuk menyampaikan cerita kepada para penikmat foto.

Marrysa Tunjung Sari percaya setiap fotografer harus belajar bercerita dan menulis.

“Karena itu akan membuat seorang fotografer peka memilih cerita yang hendak disampaikan lewat fotonya. Ia jadi paham tahapan bercerita dan foto-foto harus diambil dari sudut pandang apa saja,” kata Marrysa.

Di Lokakarya Patjar, Marrysa berbagi soal bagaimana menghasilkan foto yang bercerita. Para peserta akan diminta membawa kamera apa saja, baik kamera profesional, kamera saku, maupun kamera ponsel.

Bagi Marrysa, alat foto bukan hambatan untuk mendapatkan gambar yang menarik, tapi cerita yang ingin disampaikan dan berhasil disampaikanlah yang menjadi fokusnya.

Menjelang petang, sejak pukul 19.00 WIB, akan ada peluncuran sebuah buku baru karya I Gusti Putu Bawa Samargantang bersama Dorothea Rosa Herliany, pendiri penerbit Indonesia Tera.

Dalam banyak karyanya, Samar Gantang sering mengisahkan Bali dari dua sisi, keindahan dan kemisteriusan. Selain dikenal sebagai “Penyair Leak” yang selalu memukau ketika tampil di panggung, Samar Gantang ternyata menulis novel.

Leak Tegal Sirah (2019), adalah salah satu novel yang ia tulis menggunakan pendekatan sejarah. Dalam novel ini, ia banyak berkisah tentang Bali pada tahun-tahun kelam sejarah di ujung priode pemerintahan Soekarno.

Indonesia Tera,  sebuah penerbit yang cukup lama tertidur, kini bangun dan mulai bekerja kembali. Dorothea Rosa Herliany, sang pemimpin redaksi akan hadir menemani Samar Gantang membicarakan bukunya ini.

“Indonesia butuh banyak penulis dan penerbit yang melihat Indonesia dari banyak sisi. Sesi ini akan menarik, melihat bagaimana penerbit, penulis dan karya yang mereka hasilkan memberi warna, perspektif segar bagi bahan bacaan kita di Indonesia,” tutup Irwan Bajang, salah satu inisiator patjarmerah.

Festival patjarmerah ini berlangsung sejak pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam. Bagi para pengunjung, tidak dipungut biaya sama sekali.

Ada banyak hadiah kejutan pula yang akan dibagikan pada para pengunjung yang akan dipilih melalui aplikasi “patjarmerah” yang sudah bisa diunduh di android.

Aplikasi ini juga akan membantu para pengunjung untuk mengetahui jadwal, pembicara, judul dan letak buku, serta segala informasi terkait penyelenggaraan patjarmerah.
Catatan Penting:

Penulisan ‘patjarmerah’ selalu disambung dan tidak menggunakan huruf kapital (Salah: Patjarmerah, Patjar Merah)

Judul Lengkap: patjarmerah – Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling

5 Nilai Dasar patjarmerah

Kompetitif – Harga buku-buku di pasarbuku patjarmerah terjangkau. Potongan harga diberikan hingga 80%.

Variatif – buku-buku yang dijual di pasar buku keliling patjarmerah beragam, mulai dari fiksi dan nonfiksi, buku anak, hingga buku penunjang pelajaran yang terbitkan oleh lebih dari 100 penerbit nasional, baik arus utama maupun independen.

Kolaboratif – patjarmerah bersifat lintas industri dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya kepada siapa saja yang memilki tujuan sama: menciptakan akses literasi merata di Indonesia.

Edukatif – Sesi-sesi literasi di patjarmerah lintas industri dan bersifat edukatif sekaligus menghibur.

Inklusif – Sesi-sesi kreatif di festival literasi patjarmerah bersifat inklusif, tidak hanya dari sisi tema literasi, tetapi juga kesetaraan akses bagi kawan-kawan difabel.

Sebab akses literasi yang merata adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *