Walking Tour: Jalan-jalan Sembari Mengeksplorasi Sejarah di Kota Semarang

SEMARANG (Asatu.id) ― Wisata yang murah dan menyenangkan ini dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri sudut-sudut yang tersembunyi di Kota Semarang, selain menyehatkan bagi tubuh, peserta walking tour dipersembahkan dengan cerita sejarah di balik tiap spot yang dilewati.

Rute yang dilalui pun memiliki spot-spot unik dengan jumlah spot paling sedikit adalah 17 dan jumlah spot paling banyak hampir tidak terhitung jumlahnya.

Hafidz selaku story teller, menjelaskan, kegiatan walking tour ini digagas oleh Bersukaria Tour Organizer dengan tujuan jalan-jalan sembari menggali Kota Semarang lebih dalam lagi, sedangkan kegiatan jalan kaki mengelilingi kota Semarang dengan rute tertentu diberi nama dengan Bersukaria Walking Tour atau bersukariawalk.

“Tidak hanya sekedar jalan-jalan biasa, walking tour oleh bersukaria ditemani oleh salah satu pemandu atau story teller yang akan menjelaskan sejarah atau nilai historis dari spot yang dilewati,” katanya.

Story teller, tambah Hafids, ini juga memperlihatkan foto repro dari spot yang dilewati, seperti Gedung Sarekat Islam yang berada di Kawasan Kampung Ligu Tengah kota Semarang.

“Foto ini pada tahun 1930-an, yang mana pada zaman itu Sarekat Islam terbagi menjadi dua. Sarekat Islam putih dan Sarekat Islam merah. Nah, di Semarang sendiri juga menyimpan sejarah tentang itu, dan tempatnya ada di sini, ini, sedangkan nama kampung Ligu sendiri diambil dari tuan tanah pada masa itu: Liegue,” jelas Hafidz pada saat memandu walking tour, di depan lokasi Gedung Sarekat Islam.

Peserta juga diperbolehkan untuk melihat sisi dari dalam Gedung, namun tidak bisa masuk.

Saat dilihat dari luar melalui lubang kaca, Gedung Sarekat Islam masih berdiri kokoh, dengan bendera merah putih berada di tengah gedung.

Titik selanjutnya dengan berjalan sepanjang SD-SMP-SMA Theresiana, dan dilanjutkan hingga masuk menyusuri kampung, dan bertemu dengan bangunan pertama dari Pabrik Jamu Jago sebelum berpindah di Kawasan Srondol Banyumanik Semarang.

“Jamu sendiri berasal dari jampi-jampi, yang berarti obat, atau ramuan. Jamu jago berdiri dari 1918, yang didirikan oleh sepasang suami istri, pak Phoa Tjong Kwan dan bu Tjia Kiat Nio. Bu Tjia ini yang bertugas membuat ramuan jamu. Saking jago nya, bu Tjia dipanggil warga sekitar dengan nama Pak Jago. Akhirnya menjadi nama Jamu Jago,” tutur Hafidz di sela penelusuran rute Kampung Kali dan berhenti di spot Pabrik Jamu Jago.

Spot selanjutnya yang dituju yakni Gereja Al Masih Jemaat Pringgading dan dilanjutkan menuju ke Geredja Kristen Karangsaru.

Story teller pun juga menunjukkan foto repro Geredja Kristen Karangsaru, sebagaimana dilanjutkan pada spot selanjutnya, yakni Pabrik Rokok Upet Tambang dan Pabrik Rokok Pompa, hingga titik terakhir yakni Stadion Diponegoro.

Tiap titik menyimpan nilai historis yang bahkan orang asli Semarang atau warga pribumi Semarang juga baru mengetahuinya.

“Menyenangkan, ya, karena sebelumnya belum pernah ada kegiatan seperti ini. Awal tahu bersukariawalk juga dari temen, ditag lewat Instagram, terus jadi tertarik. Sebenernya spot ini udah pernah dilewati, tapi tetep tertarik aja, karena beda story teller, beda cara menyampaikan ceritanya,” kata Mita peserta walking tour.

Menurutnya, rute yang lebih menyenangkan lainnya ada di Kawasan Kauman, dan Multicultural Tour. Sebab, banyak spot yang yang dapat diambil untuk berfoto, dan jalan yang dilalui juga tidak memakan waktu sebentar.

Bersukariawalk memiliki berbagai rute lainnya, seperti Bodjong Weg Tour, C10, Candi Baroe Tour, Chinatown Tour, Jatingaleh, Kampung Kota, Kauman, Mataram, Multicultural, Old Town Tour, Radja Goela, Simpang Lima, dan Spoorweg Jurney Tour. Rute ini dinamakan dengan nama Rute Reguler yang hanya dilakukan pada weekend saja, hari Sabtu pada pukul 15.30 dan 18.30, serta hari Minggu pada pukul 08.00.

Jika ingin melaksanakan tour pada hari lain, peserta dapat mengikuti Private Walking Tour. Khusus walking tour, story teller mengenakan sistem pay as you want pada sesi akhir jalan-jalan, yang disesuaikan dengan kepuasan tiap-tiap peserta.

Sejauh ini, kendala yang kerap dihadapi oleh story teller atau pemandu sewaktu melaksanakan walking tour ketika mengatur peserta yang terlalu banyak.

Jadi, jika peserta melebihi 20 orang harus ada dua story teller, selain itu kendala yang dihadapi sewaktu konfirmasi peserta.

Lanjut, “sesuai dengan slogan kita “Let’s discover Semarang deeper than local ever did”, kamu orang Semarang, dan baru tahu ternyata Semarang kaya gini.

Itulah tujuan utama kita selain pariwisata. Harapan ke depannya, semoga lebih banyak yang ikut bersukaria walking tour.” Tukas Hafidz, story teller bersukariawalk. (Arlita Millenia Permata)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *