Lahan dan Bangunan di Jalan Tawangsari Kembali ke PT KAI

SEMARANG (Asatu.id) – Setelah bersengketa selama tiga tahun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya bisa merebut kembali aset lahannya dari penguasaan warga. Proses eksekusi lahan dan bangunan yang berlokasi di Jalan Tawangsari, Semarang itu dilakukan Pengadilan Negeri Semarang Kamis (14/12).

Kuasa hukum PT KAI Daerah Operasional IV Semarang, Jesse Heber Ambuwaru, mengatakan pengosongan objek sengketa berhasil dilakukan, meski sebelumnya mendapat perlawanan dari pihak-pihak yang menguasai.

“PT. KAI beserta Pengadilan Negeri Semarang dan aparat polisi tetap melakukan eksekusi pengosongan lahan dimaksud,” kata Jesse.

Dalam proses sengketa, warga yang menguasai lahan mengaku telah membayar sewa kepada PT. KAI. Di sisi lain, sejak 2009 PT KAI mengaku sudah tidak menerima pembayaran.

Setidaknya ada lima lahan dan bangunan dieksekusi oleh PN Semarang, yang semula dihuni oleh Esti Tunggal, Dewi Riatmaningsih, Kurnia Pinasti Yulianto, Abdul Su’ud, dan Kustiyah. Lahan tersebut berada di Jalan Tawangsari, Tanjung Mas, atau dekat pintu keluar Stasiun Semarang Tawang.

Menurut Jesse, pengosongan lahan dan bangunan berdasarkan putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap. Warga telah diminta mengosongkan lahan.

“Mereka secara melawan hukum tetap menguasai lahan milik PT. KAI walaupun telah ada putusan Mahkamah Agung yang memerintahkan warga untuk mengosongkan lahan secara sukarela,” jelasnya.

Proses eksekusi pun berlangsung tanpa halangan. Sebelum pengosongan lahan dilaksanakan, juru sita PN Semarang, Riris Dian Pitaloka, membacakan putusan Mahkamah Agung kepada warga yang menguasai lahan. Riris mengatakan Mahkamah Agung menolak gugatan warga terhadap PT KAI.

“Menyatakan para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum yang telah menimbulkan kerugian (bagi KAI). Untuk itu Mahkamah Agung memerintahkan kepada warga untuk menyerahkan tanah dan bangunan yang sudah bertahun-tahun dikuasai kepada PT KAI,” tandasnya.

Mahkamah Agung juga memerintahkan warga untuk menyerahkan tanah dan bangunan yang telah mereka huni selama bertahun-tahun.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *