Tumbuhkan Budaya Menabung dengan Pendekatan yang Unik

SEMARANG (Asatu.id) – Gerakan menabung yang kini tengah digaungkan lagi melalui penetapan Hari Menabung Nasional pada 20 Agustus, memiliki tujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan.

Jawa Tengah ditunjuk sebagai pilot sebagai project program tersebut.

“Gubernur Jawa Tengah ingin program ini sukses dan ditiru provinsi lain. Pendekatan program ini unik karena menjamah seluruh sekolah SMP di Jawa Tengah. Perkara menabung atau tidak, menjadi perkara lain nantinya. Sementara di tempat lain kegiatannya hanya seremonial, sehingga tidak menyentuh seluruh sekolah,” kata Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Regional 3 Jateng dan DIY, Aman Santosa.

Aman menyampaikanhal itu pada acara Rakor Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah terkait Gerakan Indonesia Menabung di Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Novotel, Rabu (13/11).

Pendekatan masif ini dilakukan untuk menumbuhkan budaya menabung.

Jika budaya menabung sudah tumbuh, nantinya akan memunculkan ketertarikan untuk berinvestasi. Ketika investasi tumbuh, maka akan meningkatkan produksi.

Sementara menurut Pj Sekda Provinsi Jateng, Herru Setiadhie, pendekatan yang dilakukan OJK, sudah baik.

Tetapi, pihaknya juga menyarankan, agar pendekatan tidak hanya pendekatan formal, tapi juga pendekatan budaya. Di samping itu, perlu diciptakan semacam gimmick gimmick gerakan menabung yang dapat diakses melalui smartphone.

“Kondisi anak muda sekarang sudah banyak terjadi pergeseran. Dulu anak-anak cuma ditanya gurunya mengapa tidak menabung, sudah menangis. Tapi mungkin anak sekarang, menyepelekan. Maka perlu diciptakan semacam gimmick-gimmick melalui smartphone,” jelasnya.

Herru yakin, dengan upaya tersebut, gerakan menabung secara masif masih dapat dilakukan. Gerakan ini penting, apalagi inklusi keuangan di Jateng masih 65,71 persen, lebih rendah dari nasional yang 75 persen.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *