Film Anak Garuda Angkat Kisah Nyata Anak Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Butterfly Pictures memproduksi film inspiratif yang mengangkat kisah nyata dengah mengusung judul Anak Garuda.

Film Anak Garuda yang disutradari Faozan Rizal mengisahkan perjuangan tujuh alumni SPI. Mereka meraih kesuksesan dan memutus mata rantai kemiskinan keluarganya. Penulis naskah film Alim Sudio.

Tujuh alumni tersebut terdiri Olfa, Robet, Yohana, Dila, Sayyidah, Wayan dan Sheren. Mereka dimentori Julian Eka Putra alias Koh Jul. Kini, mereka dikabarkan telah memiliki omzet miliaran rupiah dan menyisihkan dana tersebut untuk membantu mengelola Sekolah SPI gratis itu.

Bagi orang tua, guru dan pemimpin, film ini mengisahkan bagaimana Julianto Eka Putra sebagai mentor memiliki metode yang unik dalam menangani anak-anak yatim piatu dengan banyak luka batin dan kepahitan hidup, lalu mentransformasi mereka menjadi pribadi yang bernilai.

Verdi Solaiman turut bergerak sebagai produser untuk film ini. Syuting dilakukan di kawasan Batu dan Malang, serta beberapa kota di kawasan Eropa. Film ini dibintangi Ajil Ditto dan Tissa Biani.

Band Cokelat didapuk memberikan kontribusi untuk soundtrack film Anak Garuda. Film Anak Garuda dijadwalkan tayang di layar lebar (bioskop) pada 2 Desember mendatang.

Julian Eka Putra selaku mentor menuturkan berharap film Anak Garuda dapat menyentuh berbagai kalangan.

Sebelumnya, kisah Anak Garuda lebih dulu tayang dalam bentuk komik digital sejak 17 Mei 2019. Ceritanya terangkum dalam 24 babak yang ditayangkan selama enam bulan.

“Saya merasa tidak harus tokoh-tokoh yang terkenal saja yang difilmkan. Tapi juga pahlawan zaman sekarang yang berjuang untuk meraih mimpi. Mereka alumni SPI sangat menginspirasi, tidak hanya untuk anak muda, melainkan semua orang,” ujarnya pada pres di Semarang, Selasa (29/10).

Dalam acara pengenalan tujuh alumni SPI tersebut, Julian menyebut, film mengenai kisah inspiratif masa sekolah bukanlah hal baru di industri film Indonesia. Namun, ‘Anak Garuda’ mengambil sisi lain SPI yang tidak hanya sekolah untuk mencerdaskan siswanya, melainkan juga mensejahterahkan mereka.

Sementara itu, Johan Budiman Raharjo mentor lain mengatakan Sekolah SPI sendiri merupakan sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang tidak bisa lanjut sekolah karena terkendala biaya. Baik itu kaum dhuafa, anak yatim maupun yatim piatu.

SPI yang setiap tahun menerima sedikitnya 100 siswa itu, diasuh oleh 25 guru profesional dengan memperoleh selain pelajaran teori dan sebagian besar diutamakan pratikum di berbagai bidang entrepreneur.

“Mereka juga belajar bagaimana mengatasi perbedaan (suku, ras, agama), mengatasi luka batin dan kepahitan hidup yang pernah mereka alami, serta menjadi pengendali bagi diri mereka sendiri dan segala masalahnya (minder, kemarahan, kebencian, iri hati, dan sebagainya),” tutur Johan.

Menurutnya, mereka ini boleh dibilang berjuang dari titik nol atau bahkan minus untuk membalikkan keadaan dan menjadi orang-orang yang berhasil. Kisah perjuangan anak-anak ini yang harus disampaikan ke seluruh Indonesia melalui fiml Anak Garuda.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *