Cegah Intoleransi, Peran Guru Pendidikan Agama Sangat Besar

SEMARANG (Asatu.id) – Berkembangnya aktifitas intoleransi pada diri para murid perlu dicegah. Dalam hal ini, peran guru agama di satuan-satuan pendidikan sangat penting dan besar dalam melakukan upaya pencegahan.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ir  Hamli ME mengatakan, isu  intoleransi jika dibiarkan bergulir tanpa kontrol sangat berpotensi menyuburkan paham radikalisme, termasuk radiklaisme berbungkus ajaran agama yang disalahgunakan.

“Di sinilah pentingnya peran guru agama di tingkat dasar dan menengah dalam membentengi peserta didiknya dari ancaman pengaruh intoleransi,” ujarnya saat menyampaikan materi
tentang Kebijakan dan Strategi Pencegahan Terorisme dalam kegiatan Integrasi Nilai-nilai Agama dan Budaya Di Sekolah Dalam Menumbuhkan Harmoni Kebangsaan di Semarang.

Kegiatan ini diselenggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jawa Tengah (FKPT Jateng) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan diikuti 105 guru pendidikan agama TK-SD/MI dan SMP/MTs Se- Kota Semarang di Hotel Pandanaran Semarang, Rabu (30/10)

Menurutnya, belajar dari pengalaman dan hasil penelitian dari berbagai pihak, sikap intoleransi menjadi pintu masuk atau tanggal awal seseorang menjadi radikalis atau terpapar paham radikalisme .

Isu intoleransi, lanjutnya, bisa  berbasis masalah identitas seseorang atau kelompok termasuk isu agama yang belakangan sering muncul di masyarakat beriringan dengan isu demokrasi.

Dia menambahkan, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang kian terbuka selama ini berpotensi untuk ditunggangi isu-isu intoleransi dan ujaran kebencian dengan mengatasnamakan agama.

Kalau sudah membawa-bawa nama agama, tutur Hamli, hal ini sangat membahayakan, karena itu FKPT Jateng dan BNPT yang berupaya membentengi para siswa melalui kegiatan ini sangat tepat.

Gur-guru pendidikan agama berperan besar menangkal penyelewengan ajaran agama yang dihembus-hembuskan oleh pihak-pihak yang akan mengganggu suasana toleransi yang sudah tercipta di masyarakat selama ini.

“Sejak dini anak-anak kita harus dibentengi dan dijauhkan dari kebiasaan mengungkapkan ujaran  kebencian dan intoleransi agar tidak sampai terpapar paham radikalisme,” tutur Hamli.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *