Adopsi Belanda, Tol Semarang-Demak Jadi Tanggul Laut Pertama di Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Proyek tol Semarang-Demak yang mengadopsi tol di Belanda telah dimulai. Proyek sepanjang 27 kilometer yang membentang di pesisir pantai utara Jateng tersebut akan menjadi model tol yang sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut pertama di Indonesia.

Hal itu disampaikan Sekda Jateng Sri Puryono di sela wawancara dan pengambilan gambar untuk film “Indonesiaku”, di Hutan Mangrove Puri Maerokoco Kota Semarang, Rabu (23/10).

“Tol Semarang-Demak ini sekaligus sebagai tanggul laut. Saya sudah melihat tol sekaligus tanggul laut di Belanda beberapa hari lalu. Bangunannya sangat bagus. Itu yang akan diadopsi pertama di Indonesia, model tol sekaligus sebagai tanggul laut,” kata Sri Puryono.

Menurut Sekda, proyek pembangunan tol yang menelan investasi sebesar Rp15,3 triliun ini, akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena prinsip pemerintah membangun suatu sarana umum adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat atau tidak boleh pembangunan justru menyengsarakan atau memiskinkan masyarakat.

“Warga yang tinggal di daerah-daerah yang akan dilintasi Tol Semarang-Demak akan mendapatkan ganti rugi sesuai peraturan yang ditetapkan. Bagi warga yang rumahnya terkena proyek tol otomatis mau tidak mau harus pindah. Bahkan tol untuk mengantisipasi rob dan abrasi di pesisir utara ini, ke depan juga akan sampai Rembang sehingga menyambung dengan Jawa Timur,” bebernya.

Pada sesi wawancara  program salah satu televisi nasional yang mengisahkan tentang bencana rob yang menggenangi wilayah Jateng itu, Sekda menjelaskan rob atau air laut pasang yang kerap menggenangi permukiman penduduk di kawasan pesisir dan sarana umum lainnya, termasuk jalur transnasional yang menghubungkan Jateng-Jatim harus segera ditanggulangi.

Salah satu caranya dengan gerakan penanaman dan perawatan tanaman mangrove oleh semua pihak. Langkah tersebut telah menunjukkan perkembangan cukup signifikan sejak lima tahun terakhir.

“Ini penting kita lakukan bersama berbagai pihak, termasuk bekerjasama dengan Belanda baik dalam bentuk penguatan lingkungan maupun fisik. Tidak kalah penting peran akademisi, pemerintah, pengusaha, komunitas, dan media untuk terus melakukan gerakan pelestarian kawasan pesisir.

Seperti diketahui, Menteri pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono telah menandatangani perjanjian pembangunan pengusahaan jalan Tol Semarang Demak bersama PT pembangunan Perumahan Semarang Demak dan PT Penjamin Infrastruktur Indonesia di Jakarta, Senin, 23 September 2019.

Tol Semarang-Demak dibangun untuk meningkatkan keterhubungan Semarang ke arah Demak hingga Gresik dan Surabaya. Pembangunan tol yang ditarget selesai pada 2022 ini, sekaligus sebagai sabuk pantai di agar rob atau air laut pasang yang kerap menggenangi jalur nasional di ruas Kaligawe, Genuk, dan sekitarnya bisa teratasi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *