Empat Rekomendasi Kongres Sampah untuk Ganjar

SEMARANG (Asatu.id) – Sidang komisi sesi I dalam Kongres Sampah mengeluarkan empat rekomendasi kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Selain persoalan anggaran, rekomendasi kelima komisi tersebut menitikberatkan pada edukasi persampahan terhadap masyarakat.

Kongres Sampah yang berlangsung di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Sabtu – Minggu (12-13/10) terbagi dalam lima komisi. Setiap komisi melakukan pembahasan isu-isu yang berbeda secara mendalam. Setelah itu setiap komisi mengeluarkan rekomendasi.

“Pada sidang komisi sesi pertama ini ada empat rekomendasi yang kami berikan. Soal edukasi persampahan terutama soal pemilahan, alat angkut, fasilitas termasuk TPA yang representatif dan dukungan anggaran dari pemerintah,” kata Putut Yulianto, panitia Kongres Sampah, Sabtu (12/10).

Keempat rekomendasi tersebut dikeluarkan beserta turunannya yang dihasilkan oleh lima komisi yang membahas isu berbeda. Komisi I, Sampah sebagai Komoditas Ramah Lingkungan. Komisi II, Pengembangan Ilmu dan Teknologi Penanganan Sampah. Komisi III, Regulasi, Kebijakan dan Program Penanganan Sampah yang Ramah Lingkungan.

Kemudian Komisi IV, Penguatan Konsolidasi dan Sinergi Pemangku Kepentingan Persampahan. Dan Komisi V, Gerakan Anti Sampah Non-Organik.

“Sidang komisi ini masih akan berlanjut sampai besok dan akan memberikan rekomendasi final pada Gubernur Jawa Tengah untuk kemudian diterbitkan dalam kebijakan,” katanya.

Lima Komisi tersebut anggotanya terdiri dari akademisi, aktivis, pengusaha dan dari unsur pemerintah. Salah satunya adalah Natalia Desi, dari Balai PSDA Bodri Guto yang masuk di Sidang Komisi V.

Dia mengatakan persoalan mendasar yang mesti dilakukan adalah edukasi persampahan terhadap masyarakat. Terutama soal pemanfaatan yang bukan sekadar persoalan komersial.

“Kalau kita pahami lebih ke lingkungan. Kalau itu sudah dipegang aspek lain akan menyusul. Gerakan lebih dari hati. Sekarang kan influencer banyak yang bergerak di situ. Lebih peka terhadap sampah saja. Semoga seperti warga desa Kesongo. Gerakan peduli lingkungan,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *