Jateng Darurat Sampah

SEMARANG (Asatu.id) – Pakar lingkungan Universitas Diponegoro, Prof Syafruddin menjelaskan, Jawa Tengah sudah masuk kategori darurat sampah. Pada 2016 saja produksi sampah mencapai 5,7 juta ton. Jumlah tersebut naik 335.070 ton dibanding 2015 yang sebesar 5,3 juta ton.

Per hari, sampah di seluruh Jateng ini total mencapai 15.671 ton. Itupun data pada 2016. Jika dibayangkan perkembangan yang luar biasa selama dua tiga tahun ini. Diperlukan treatment khusus untuk menanggulangi itu yang harus dilakukan semua kalangan, terutama pemerintah dan masyarakat.

Selain harus ada pembagian tugas, kesadaran utama yang mesti dilakukan adalah membentuk gerakan pengurangan dan pengolahan sampah.

“Yang lebih urgent, soal keberanian pemerintah menegakkan peraturan. Sekarang ini keberanian pemerintah masih kurang, tidak pernah memberanikan diri mengkampanyekan aturan sampah,” katanya.

Namun demikian, Syafruddin merasa bisa sedikit bernafas lega karena jumlah sampah di Jawa Tengah tidak terlalu besar jika dibanding Jawa Timur terlebih Jawa Barat.

Jika di Jawa Tengah perhari sampahnya 15 ribu, di Jatim total sampahnya mencapai 19 ribu ton perhari. Bahkan Jawa Barat sebanyak 27 ton perhari.

Para pegiat sampah pun mengapresiasi langkah Ganjar yang menggelar kongres sampah sebagai upaya penanggulangan sampah di Jawa Tengah.

Namun mereka berharap, kongres tersebut dapat menghasilkan langkah kongkret dalam upaya pengurangan sampah di masyarakat.

“Minimal, kongres sampah nanti dapat menghasilkan kebijakan dalam rangka merubah perilaku masyarakat tentang sampah. Tidak perlu bicara jauh-jauh dahulu, karena problem sampah sebenarnya ada pada perilaku masyarakat,” kata Pegiat Bank Sampah Alam Pesona Lestari Semarang, Sri Ismiyati.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *