Iklan Konvensional Masih Mampu Besaing di Era Digital

SEMARANG (Asatu.id) – Era digital secara perlahan diyakini akan menggerus teknologi konvensional. Saat ini bisnis iklan menjadi salah satu bidang usaha yang ikut merasakan dampak digitalisasi tersebut.

Iklan dengan sarana baliho atau billboard, misalnya. Papan iklan yang biasa dipasang di pinggir jalan itu, selama ini dikenal sebagai sarana paling efektif untuk menyasar masyarakat dan calon konsumen. Namun kehadiran era digital atau modern dengan beragam bentuk media sosial (sosial), menjadikan iklan baliho berkurang kuantitasnya.

Andi Kusnadi, Direktur Sportax Advertising, mengakui, sedikit banyak perkembangan bisnis iklan balihonya memang terpengaruh oleh hadirnya era digital. Tetapi bukan berarti iklan baliho tidak diperlukan. Karena masing-masing punya sisi keunggulan.

“Yang jadi persoalan sekarang, pelaku bisnis advertising secara otomatis harus membagi budgetnya. Kalau tidak, kita akan tergilas dan ketinggalan dengan perkembangan teknologi. Intinya yang konvensional jangan ditinggal, tapi yang mutakhir dan modern juga harus diikuti,” katanya, Jumat (27/9).

Sejauh ini, menurut Andi, iklan baliho belum sepenuhnya ditinggal pelaku bisnis. Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa iklan dengan media online belum sepenuhnya bisa menggeser bentuk iklan konvensional.

“Untuk saat ini, iklan baliho atau billboard masih bertebaran karena memang masih dibutuhkan. Tetapi harus disadari bahwa pada saatnya nanti iklan konvensional seperti baliho itu akan ditinggal dan beralih ke jenis online. Itu yang harus kita siapkan. Dengan iklan digital, brand atau konsumen yang beriklan dapat lebih mudah mengganti tema atau materinya dengan cepat,” tuturnya.

Masih semaraknya iklan baliho, membuktikan bahwa jenis iklan out door tersebut masih mampu menggaet calon konsumen secara maksimal. Lewat sarana baliho atau billboard, pelaku bisnis merasa bisa lebih leluasa mempromosikan produknya.

Keuntungan yang lain, baliho dinilai lebih jelas menampilkan tentang suatu brand dan menjadikan orang yang melintasi jalan sebagai target pasar mereka bisa “terhipnotis” perhatiannya.

Terkait peluang bisnis iklan baliho yang masih terbuka lebar juga diakui Awie Sukarno, Direktur Marketing Asatu. Menurutnya, saat ini masih banyak brand yang memanfaatkan baliho untuk promosi, meskipun zamannya sudah serba digital.

“Bisnis media luar ruang masih sangat diperlukan sebagai sarana promosi yang tepat sasaran. Di era digital ini memang banyak bisnis konvensional yangvtergerus, tetapi tidak untuk bisnis media luar ruang atau baliho ini, karena sarana promo tersebut menyasar segmen lokal,” katanya.

Awie menambahkan, iklan digital dan kampanye email menawarkan penargetan yang jauh lebih baik. Iklan TV pun lebih dinamis. Tetapi iklan luar ruang masih tetap terasa spesial. Penyebabnya karena setiap hari masih banyak orang yang melakukan aktivitas di luar yang secara otomatis bisa membaca baliho di beberapa ruas trotoar atau tempat strategis lainnya.

“Ketika mereka melihat papan iklan, tanda jalan atau objek yang menarik perhatian lainnya, mereka meluangkan waktu sejenak untuk melihatnya. Untuk merek, momen itu membuat perbedaan antara ketidakrelevanan dan minat. Itulah salah satu keunggulan iklan baliho,” tuturnya.

Di sisi lain, Awie juga mengakui kelebihan iklan online lewat sarana medsos. Orang menghabiskan begitu banyak waktu di depan layar dan sering tertaik dengan iklannya yang obyeknya terkadang menggambarkan kehidupan nyata. Dan itu menjadi isyarat prospek media luar griya nantinya akan didominasi iklan digital.

“Tetapi iklan konvesional tetap punya peluang besar. Iklan luar ruang adalah media nondigital paling efektif untuk menghasilkan aktivitas online. Jalur dari iklan luar ruang ke peningkatan pendapatan juga lebih mudah, tetapi keberhasilan sepenuhnya bergantung pada eksekusi,” pungkasnya.

Ya, menyodorkan sebuah merek memang tidak hanya perlu memperluas kehadiran mereka di luar, tetapi juga untuk menciptakan pengalaman yang mengesankan dengan memaksimalkan anggaran. Apa pun jenis media iklan yang dipakai. Tergantung bagaimana mengemas menu iklan yang disajikan dan mengeksekusinya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *