Ganjar, Bupati dan Walikota se-Jateng Terapkan Kurikulum Antikorupsi SD sampai SMA

SURAKARTA (Asatu.id) – Bupati dan Walikota se-Jateng bersepakat untuk menerapkan pendidikan antikorupsi di sekolah. Dengan adanya pendidikan antikorupsi sejak di bangku sekolah, peserta didik memiliki jiwa antikorupsi yang akan menjadi benteng kelak ketika mereka dewasa atau menjaga pejabat tidak melakukan korupsi.

Kesepakatan para bupati dan walikota itu dituangkan dalam penandatanganan implementasi pendidikan anti korupsi Bupati/Walikota se-Jawa Tengah yang berlangsung di sela-sela Roadshow Bus KPK 2019 Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi di Bale Tawang Arum, Surakarta, disaksikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai inisiator dan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, Jum’at (27/9) siang.

Pada kesempatan itu, Ganjar meminta upaya-upaya pencegahan korupsi tidak menunggu pelatihan di dalam kelas yang dilakukan KPK, tetapi juga pemerintah maupun masyarakat.

Menurutnya, ada beragam cara. Misalnya membentuk agen antikorupsi yang bisa dilepas di tengah masyarakat. Cara-cara formal maupun non formal dengan metodologi yang tepat, agar bisa menjadi rule model di berbagai daerah.

“Kita juga dorong perguruan tinggi untuk program KKN-nya tematik, bicara anti korupsi. Sosialisasi antikorupsi bisa ke sekolah, memasukkan ke kurikulum. Di TK misalnya dengan membuat permainan-permainan,” katanya.

Saat meninjau stan-stan yang ada, Ganjar pun menemui sekumpulan siswa-siswi yang tengah asik mengikuti beragam permainan didampingi oleh staf KPK. Ganjar menemui siswa Rakha dan Andra. Kepada kedua siswa kelas 2 SD itu, Ganjar mempraktikkan cara pembelajaran antikorupsi kepada anak-anak.

“Kalau temanmu menyontek saat ulangan, apa yang kamu perbuat?” tanya Ganjar.

“Dinasihati. Kalau dia masih membandel, laporkan ke guru,” jawab Andra.

“Kalau ada tumbler milik temanmu ditinggal di kelas. Apa yang kamu lakukan?” tanya Ganjar lagi.

“Tidak mencurinya. Karena, mencuri itu perbuatan sangat jahat. Pemiliknya kita beritahu kalau tumblernya ketinggalan di kelas,” jawab Rakha disambut tepuk tangan teman-teman dan orang nomor satu di Jateng itu. Ia pun diberi hadiah buku bacaan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyadari, untuk menjadi bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota butuh biaya tinggi. Akan tetapi, untuk mengembalikannya, jangan sampai salah langkah dengan melakukan korupsi.

“Jika mengembalikannya dengan cara yang tidak baik, ya kena KPK,” tandas Ganjar.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *