Meski Kebakaran Padam, Ganjar Tandaskan Pendakian Gunung Merbabu Masih Ditutup

BOYOLALI (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengunjungi Posko Pendakian Gunung Merbabu di Dk Wonolelo Kecamatan Ampel Boyolali, Minggu (15/9). Kedatangan Ganjar ke lokasi itu untuk memantau proses pemadaman kebakaran yang menimpa Taman Nasional Gunung Merbabu sejak beberapa hari lalu.

Awalnya, Ganjar berencana melihat lokasi kebakaran di puncak gunung Merbabu. Namun karena tiba di lokasi sudah sore hari, Ganjar tidak jadi ke lokasi dan melihat foto-foto serta mendengarkan laporan dari para relawan setempat.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Junita Parjanti mengatakan, dari pantauan Stasiun Lapan menunjukkan sudah tidak ada lagi titik api di Gunung Merbabu. Meski begitu, pihaknya akan terus memastikan agar tidak ada sisa api yang dapat menimbulkan kebakaran lain.

“Alhamdulillah sudah padam, dari pandangan mata dan juga Stasiun Lapan menerangkan sudah tidak ada lagi titik api di Merbabu. Namun kami masih terus menerjunkan tim untuk memastikan agar tidak ada sisa api tersisa yang kemungkinan dapat membesar,” kata Junita.

Sampai saat ini, lanjut dia, sudah ada 436 hektare lahan Taman Nasional Gunung Merbabu yang terbakar. Lokasi kebakaran terjadi di Boyolali, Magelang dan Kabupaten Semarang.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun akibat kebakaran itu keanekaragaman hayati di kawasan tersebut menjadi rusak.

“Selain itu, sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan oleh warga beberapa juga terganggu akibat kebakaran ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengapresiasi usaha dari sejumlah pihak termasuk para relawan untuk memadamkan kebakaran Merbabu. Meski begitu, ia tetap meminta relawan siaga karena musim kemarau masih panjang.

“Dari laporan tadi, sudah tidak ada lagi titik api. Alhamdulillah sudah diatasi. Namun saya minta semua tim tetap standby untuk menghindari adanya titik api lagi,” kata dia.

Meski sudah padam, Ganjar mengatakan bahwa pendakian di puncak Gunung Merbabu tetap akan ditutup sampai musim penghujan tiba. Selain itu, masyarakat yang ada di sekitar Taman Nasional Gunung Merbabu juga dilarang untuk naik ke puncak terlebih dahulu.

“Masyarakat desa terakhir itu biasanya ke puncak untuk mencari rumput. Saya minta untuk tidak naik dulu, silakan cari rumput di tempat lain atau akan kami carikan cara agar ternaknya mendapat pakan dengan bekerjasama Dinas Peternakan,” terangnya.

Ganjar juga menyoroti bagaimana proses pemadaman api di Gunung Merbabu yang manual. Para relawan selama ini memadamkan api dengan ranting pohon, cangkul, sabit dan alat tradisional lainnya.

“Saya sedang berfikir, bagaimana caranya melakukan pemadaman yang lebih efektif. Selain menggunakan water bombing, sebenarnya ke depan tidak menutup kemungkinan penggunaan robot atau teknologi lain untuk memadamkan api. Kami akan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk mencari teknologi tersebut,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *