Pendekatan Kebudayaan Efektif Tuntaskan Persoalan Masyarakat

SEMARANG (Asatu.id) – Ketika jalur ekonomi dan hukum tidak mampu memberi jawaban atas kesejahteraan masyarakat, peluang dari jalan kebudayaan sangat terbuka lebar. Salah satu jalan efektif untuk menuntaskan persoalan masyarakat adalah dengan pendekatan kebudayaan.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di acara Dialog Kebangsaan dan Peluncuran Kampung Bhinneka, Kita Indonesia, di Grhadhika Bhakti Praja Semarang, Sabtu (14/9).

Menurut Ganjar, menjadikan kebudayan sebagai suatu jalan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di tengah masyarakat sangat dibutuhkan sekarang ini. Terlebih ketika jalur-jalur lain saat ini tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan bangsa.

“Jalan kebudayaan merupakan yang paling bagus. Karena model pendekatan politis kadang mengeras, pendekatan hukum akan jadi hitam putih,” kata Ganjar.

Kebudayaan, lanjut Ganjar, merupakan jalur yang paling smooth, yang masuk dengan pelan dan sangat bisa dinikmati terlebih jika dipadu dengan kesenian. Bahkan kalau kita bisa mendekati seni dan budaya perasaan halus itu akan mengemuka.

“Nah jika kita berperasaan halus biasanya tingkat toleransinya sangat tinggi,” katanya.

Berbagai tokoh kebudayaan dan agamawan turut hadir di acara tersebut, dari Gus Muwafiq, Prie GS hingga Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Semua sepakat bahwa dialog jadi ruang penting untuk menentukan arah bangsa ini ke depan.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, Indonesia sejak dulu didatangi peradaban yang silih berganti dan dibentuk dari situ. Maka perbedaan itu sudah jadi kepastian.

“Akhirnya kita diikat jadi satu dalam statement kebudayaan yakni UUD 1945. UUD kita itu bukan sekadar produk hukum maupun politis, tapi lebih dari itu, yakni produk kebudayaan,” terangnya.

Hilmar menegaskan, masa depan bangsa ini jalurnya berada di ranah kebudayaan. Bahkan saking kayanya, Indonesia mendapat julukan super power di bidang kebudayaan. Namun saja saat ini kesadaran atau semangat menjunjung tingginya masih lembek.

“Jangan dikira kebudayaan tidak bisa menghasilkan. Sebetulnya jalan kebudayaan kita ini adalah arah pembangunan negara kita. Kalau kita lihat, dasar pengetahuan farmasi modern adalah kebudayaan yang telah kita miliki,” sorotnya.

Sementara itu Gus Muwafiq mengatakan, sejak manusia di turunkan ke bumi sudah dinisbatkan untuk berbeda. Perbedaan semakin mencolok pada masa Nabi Ibrahim, yang darinya lahir tiga agama samawi.

“Mestinya umat beragama di era terakhir ini harusnya paling saling pengertian karena sudah ketemu antara semua agama. Normalnya, kalau orang yang berpisah terus ketemu kan mesra jalinannya dan saling pengertian,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *