Umat Katolik Angkat Perjalanan Hidup Ganjar ke Layar Kaca

SEMARANG (Asatu.id) – Kisah perjalanan hidup Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, ternyata menarik Hidup TV untuk mengangkatnya ke layar kaca. Stasiun televisi khusus umat Katolik Indonesia itu melakukan wawancara khusus di Puri Gedeh, Senin (9/9).

Sebelum wawancara, mereka mengenalkan jika Hidup TV  tersebut diluncurkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung
Jakarta (KAJ) pada 1 Februari 2017 atas usulan Ketua Komisi Komsos KAJ, Romo Harry Sulistyo, dalam rapat anggota Signis Indonesia di Muntilan, Jawa Tengah, pada 13 Februari 2017.

“Sosok Pak Ganjar juga menjadi salah satu tokoh Indonesia yang cinta tanah air yang tidak hanya berteori, tetapi langsung praktik. Wawancara khusus akan masuk dalam acara khusus profil-profil tokoh cinta tanah air di Hidup TV,” katanya.

Pertanyaan pertama tentang bagaimana sosok orang tua yang melahirkan orang nomor satu di Jateng itu langsung dijawab tegas. Menurut Ganjar, orang tuanya adalah sosok yang hebat. Meski sang ayah seorang polisi, hidupnya sejak kecil terbilang sangat sederhana.

“Dari kesederhanaan itu, membuat kami survive dan lebih banyak tantangan. Orang tua mengajarkan kemandirian, kami harus ngepel, nyuci piring, nyuci baju sendiri. Agar memiliki rasa tanggung jawab. Bapak itu antara tegas dan galak itu berhimpitan. Hingga membuat kami tidak cengeng,” tutur Ganjar.

Sedangkan sang Ibu, sering mengajari anak-anaknya memasak. Sehingga, ketika sekolah dan kuliah tinggal di kos-kosan, Ganjar memasak sendiri. Selain bertujuan agar mandiri dan percaya diri, juga menghemat karena uang saku yang terbatas.

Oleh karena itu, dengan belajar, bagi Ganjar, belajar tentang apa saja, termasuk ilmu pengetahuan yang kelak pasti akan menjadi sebuah investasi. Selain mahalnya biaya pendidikan saat itu,  Ganjar mengaku, orangtuanya sempat menjadi korban rentenir karena harus utang demi mengubah nasib hidup anak-anaknya.

“Utang orangtua kami itu baru lunas setelah kami semua bekerja. Setiap anak masing-masing “setor” ke orang tua, Rp 50 ribu pada 1990-an,” ujar Ganjar.

Seperti anak-anak lainnya di salah satu desa di lereng Gunung Lawu, Karanganyar dari ayah bernama S. Pamudji dan ibu Sri Suparni serta anak kelima dari enam bersaudara itu ketika bersekolah di bangku SD, tidak pernah memakai sepatu. Mandi di kali, dan bermain bola.

Saat kelas 5, ia pun harus pindah ke Kutoarjo untuk mengikuti tempat tugas ayahnya. Saat duduk di bangku SMP,  Ganjar bahkan sempat berjualan bensin di pinggir jalan. Saat bersekolah di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta dan kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Ganjar yang ketika itu sudah hidup sendiri di “kos-kosan” tak pernah mengeluhkan kiriman uang saku yang pas-pasan.

Keterbatasan ekonomi orang tuanya justru telah mendorong semangat dia untuk melakukan kerja sambilan.

Ganjar Prawono remaja juga dikenal sangat pendiam dan penurut. Laku prihatin karena keterbatasan ekonomi keluarga dengan berjualan bensin eceran telah menempanya menjadi politikus tangguh sekaligus mengantarkannya menjadi Gubernur Jawa Tengah untuk kedua kalinya.

“Saat menjadi mahasiswa, saya aktif di GMNI dan menjadi awal yang belajar politik. Kemudian kenal dengan tokoh-tokoh besar. Hingga menjadi anggota partai, anggota DPR RI, dan ikut bursa pemilihan gubernur dan sekarang masuk periode kedua pada tahun pertama,” tandasnya.

Mengakhiri wawancara, Ganjar pun berpesan kepada generasi muda, jika ingin mengabdi, jangan pernah mengeluh dan selalu berbuat baik.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *