Rela Berpeluh, yang Penting Rakyat Tidak Mengeluh

Setahun Kepemimpinan Ganjar-Yasin

Ganjar Pranowo – Taj Yasin Maimoen

SEMARANG (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dikenal sebagai sosok pemimpin yang prigel, peduli atau nguwongke, dan cepat tanggap terhadap beragam persoalan.

Termasuk di dalamnya memperhatikan kondisi wilayah dan masyarakatnya. Peristiwa banjir dan rob yang melanda Kota Semarang, awal Desember 2018 lalu, mengingatkan pada sosok gubernur berambut putih itu. Usai pulang dari Jeddah, Arab Saudi, Ganjar langsung berkeliling untuk mengecek lokasi-lokasi yang tergenang banjir dan rob di Kota Semarang.

Sebelumnya, selama seminggu, Ganjar memang berada di Jeddah, Arab Saudi, untuk mengikuti kegiatan pameran industri kreatif dan pariwisata asal Jateng, di samping melaksanakan ibadah umrah.

Setibanya di Bandara Ahmad Yani Semarang siang hari, Ganjar yang disambut Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana, memilih tidak pulang ke rumah dulu, tetapi langsung berkeliling mengecek kondisi banjir yang memang menggenangi beberapa wilayah Kota Semarang sejak sehari sebelumnya.

Di Kampung Purwosari, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Ganjar melihat rumah-rumah warga yang tergenang dan berdialog dengan warga. Keluhan warga didengar dan disimaknya dengan seksama. Mereka wadul, rumahnya sudah dua hari tergenang.

Ganjar terhenyak mendengar wadulan warga. Sementara di sudut lain, beberapa warga sibuk di dapur umum untuk menyiapkan masakan bagi para korban banjir rob. Ganjar pun menyambangi dapur umum itu.

Ganjar tahu kesedihan yang sedang dialami warganya. Meski begitu, Ganjar tidak ingin membuat warga sedih. Sesekali, ia melempar candaan dan membuat warga tertawa. “Nek nggoreng ojo nganti gosong lho (kalau menggoreng jangan sampai gosong ya),” canda Ganjar saat melihat ibu-ibu paruh baya yang sedang menggoreng telur. Candaan Gajar sedikit mencairkan suasana kesedihan.

Ketika Ganjar berada di lokasi bencana, tiba-tiba ada seorang pedagang mi ayam yang sedang mangkal. Sontak saja, Ganjar mentraktir warga untuk makan mi ayam tersebut dan disambut gembira warga sekitar. Saking gembiranya, warga bisa melupakan sejenak kesedihan akibat bencana yang menimpanya.

Sikap kepemimpinan Ganjar yang njawani dan penuh tepa slira, juga ditunjukkan ketika suami Siti Atikoh itu menjadi mediator masalah antara Pemkot Semarang dengan warga Tambakrejo, Tanjungmas, Semarang Utara, yang huniannya digusur untuk proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Masyarakat protes karena merasa hunian yang sudah ditempatinya bertahun-tahun dirobohkan oleh petugas Satpol PP. Warga bertindak frontal karena merasa dirugikan. Tawaran pindah ke Rusunawa Kudu ditolak karena dinilai lokasinya jauh dan mengganggu aktivitasnya sebagai nelayan.

Di tengah suasana konflik yang belum selesai, Gubernur Ganjar Pranowo menyambangi kampung mereka usai kunjungan kerja dari Bali. Kepada warga, Ganjar memastikan adanya proses pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga di Kalimati. Proses pengerjaaannya digarap gotong royong antara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Pemkot Semarang dan warga setempat. Proses pembangunan tersebut diperuntukkan bagi 97 kepala keluarga terdampak normalisasi sungai BKT. Selain 97 KK tersebut, sekitar 60 KK lainnya telah sepakat pindah di Rusunawa Kudu.

Warga yang tidak menyangka dengan kehadiran orang nomor satu di Jawa Tengah itu pun nampak sumringah. Anak-anak sampai bapak-bapak warga Tambakrejo pun langsung berebut salaman. Ketika Ganjar masuk ki tenda sementara , para warga juga menyampaikan kenyamanannya karena ada sekelompok mahasiswa yang peduli memberi hiburan kepada anak-anaknya.

Dua peristiwa di atas merupakan gambaran, bagaimana sosok Ganjar Pranowo berusaha bisa ngemong sekaligus menjadi pamomong bagi warganya yang heterogen. Bersama wakilnya, Taj Yasin Maimoen, Ganjar berusaha menjadi pemimpin yang bijak sekaligus menyejahterakan bagi 34 juta lebih warga Jawa Tengah.

Siap Barakselerasi
Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018 – 2023 pada 4 September 2018. Bagi Ganjar Pranowo, kali ini merupakan periode jabatan keduanya. Pada periode sebelumnya, Ganjar berpasangan dengan Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko.

Bisa diibaratkan, saat bersama Heru Sudjatmoko memimpin Jawa Tengah, Ganjar membuat pondasi. Dan kini, ketika bersama Taj Yasin Maimoen, Ganjar siap berakselerasi. Semua untuk warga Jawa Tegah.

Tahun 2019 ini, setahun sudah pasangan Ganjar Pranowo – Taj Yasin Maimoen memimpin Jawa Tengah. Tidak mudah memimpin masyarakat yang heterogen dari 35 kota/kabupaten.

Namun selama setahun kepemimpinan Ganjar-Yasin, setidaknya ada 40 penghargaan skala nasional yang didapatkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tentu ini prestasi yang luar biasa.

Penghargaan itu di antaranya, Juara Umum Top 99 Pelayanan Publik 2019, Pelopor Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Terbaik dari KPK, Opini WTP 8 kali berturut-turut dari BPK, Pengendali Inflasi Terbaik Nasional se Jawa-Bali, Provinsi Terbanyak Hasilkan Inovasi, Perencana Pembangunan Daerah Terbaik, Government Award 2019 sebagai Indonesian Innovative Leader, dan satu-satunya provinsi berpredikat sangat baik pada Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) 2018.

Dari penghargaan yang sebanyak itu, bagaimana sikap Ganjar menanggapinya? Rupanya Ganjar tidak terlalu puas dengan seabrek penghargaan itu.

Tentu sebagai pemimpin, Ganjar punya alasan tepat dan sangat bisa dimengerti. Menurut pria kelahiran Karanganyar, 28 Oktober 1968 itu, penghargaan tidak berarti apa-apa jika rakyat masih mengeluh.

Ganjar pun memaparkan, daripada penghargaan, dirinya dan Taj Yasin lebih suka menyebutkan program-program yang langsung menyasar rakyat sebagai pencapaiannya. Seperti insentif untuk guru ngaji, ustadz, dan pengurus pondok pesantren se Jateng.

Dengan jumlah insentif Rp 1,2 juta per orang, setidaknya sudah ada 171.131 orang yang mendapat manfaat dari program yang baru kali pertama ada itu.

Ada juga keberhasilan program lain, misalnya pengumpulan zakat dari para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencapai Rp4,7 miliar per bulan. Ini merupakan pencapaian zakat ASN tertinggi se-Indonesia yang pemanfaatannya langsung menyasar ke masyarakat, seperti untuk pembangunan rumah ibadah, rumah tidak layak huni (RTLH), santunan anak yatim piatu dan sebagainya.

Bahkan ada satu lagi keberhasilan Pemprov di bawah kepemimpinan Ganjar – Taj Yasin. Pencapaian ini sempat menjadi perhatian publik. Yakni, mengembalikan lahan PRPP Semarang. Melalui upaya hukum peninjauan kembali di Mahkamah Agung, lahan seluas 273 hektare itu kembali menjadi aset negara.

Keputusan Berani
Ketika usai dilantik sebagai Gubernur Jawa Tengah periode pertama 23 Agustus 2013 lalu, setahun kemudian atau pada 2014, Ganjar sempat mencanangkan reformasi birokrasi dan melahirkan beberapa terobosan penting.

Pencanangan itu ternyata terus direalisasikan pada jabatan periode keduanya. Sebagai bukti, pada tahun ini ada satu langkah Ganjar yang disoroti publik karena fenomenal dan dianggap “nyleneh”, yaitu keberaniannya mengangkat seorang camat menjadi Kepala Biro, sebuah jabatan eselon dua. Juga seorang Kepala Sekolah SMK Bawen, Jumeri, diangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.

Publik sempat dibuat kaget, namun apresiasi juga datang dari banyak kalangan. Ya, di tengah banyak kepala daerah terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK karena jual beli jabatan, Ganjar justru mengangkat pejabat melalui proses yang bersih dan transparan.

Bukan itu saja, Ganjar juga diapresiasi karena sistem akuntabilitas keuangan pemprov Jateng berhasil menghemat anggaran Rp 1,2 triliun. Jika pembangunan rumah tidak layak huni hanya butuh Rp 10 juta per unit, hasil penghematan bisa digunakan untuk membangun 120.000 rumah warga miskin yang tidak layak huni.

Langkah Ganjar tersebut sempat mendapat apresiasi positif dari Deputi Bidang Reformasi Birokrasi Kemenpan RB, Muhammad Yusuf Ateh pada acara evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di Semarang, pada pertengahan November 2018 lalu.

Muhammad Yusuf Ateh menilai, keberhasilan reformasi birokrasi Jateng layak menjadi rujukan provinsi-provinsi lain. Birokrasi di Jawa Tengah sudah berjalan sangat baik dan bisa menjadi role model daerah-daerah lain di Indonesia.

Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen menyadari betul, masyarakat pemilihnya menunggu realisasi program yang dijanjikan saat kampanye.

Ada banyak janji kampanye yang terakumulasi sebagai sembilan program unggulan. Di antaranya, sekolah tanpa sekat, fasilitasi guru agama, reformasi birokrasi di kabupaten/kota, Satgas kemiskinan, bantuan desa, rumah sederhana layak huni, transportasi massal, kawasan industri baru, rumah sakit tanpa dinding, sekolah khusus siswa miskin, dan memperbanyak festival seni.

Saat menghadiri pelantikan 120 anggota DPRD Jateng 2019-2024 di Gedung Berlian DPRD Jateng, Selasa, (3/9), Ganjar pun memaparkan kembali program-program unggulan tersebut. Meski baru satu tahun kepemimpinannya berjalan, rupanya sudah banyak janji-janji yang terealisasi. Sisanya dalam proses atau sedang akan dilakukan tahun depan.

Bidang Sasaran Berikutnya
Beberapa bidang menjadi bidikan program dan sasaran pembangunan pasangan Ganjar-Yasin. Dalam bidang pendidikan, misalnya, Ganjar siap menggulirkan pendidikan gratis untuk seluruh siswa SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan Pemprov.

Program ini baru akan dimulai tahun ajaran depan dengan anggaran Rp 1,6 triliun di APBD 2020.

Sekolah biaya pemerintah khusus untuk siswa miskin segera diwujudkan melalui pengembangan SMK Jawa Tengah. Sekolah boarding school gratis untuk siswa miskin, saat ini baru ada tiga, yakni di Kota Semarang, Purbalingga, dan Pati. Tahun depan mulai dibangun 15 asrama untuk SMK semi boarding school. Sehingga siswa miskin di 15 kabupaten kategori miskin bisa dididik menjadi tenaga terampil profesional siap kerja.

Tahun 2020 mendatang, Ganjar juga akan mendorong reformasi birokrasi di kabupaten/kota. Program ini akan dimulai dengan menyatukan sistem komplain handling atau penanganan pengaduan masyarakat berbasis teknologi informasi.

“Komplain masyarakat bisa kita respon bersama sehingga rakyat senang. Saya contohkan hari ini ada orang tidak bisa cuci darah lapor pada saya melalui medsos langsung saya jemput ke RSUD,” kata Ganjar di hadapan anggota DPRD Jateng yang baru dilantik.

Sementara Satgas Kemiskinan yang diketuai Wakil Gubernur Taj Yasin, salah satu programnya adalah Satu OPD satu desa miskin. Program ini mendorong sebuah dinas untuk mendampingi desa membangun badan usaha milik desa (Bumdes) hingga mandiri dan menyejahterakan warganya. Bahkan jika ada OPD yang berhasil mendampingi satu desa, Ganjar menantangnya untuk mendampingi tiga desa.

Bantuan desa diwujudkan melalui bantuan gubernur untuk infrastruktur pedesaan. Tahun ini ada 25 ribu pembangunan rumah sehat layak huni di seluruh Jateng. Pemprov juga menginisiasi 1000 start up untuk wirausahawan muda di desa-desa, kemudian akses kredit bunga murah dari Bank Jateng melalui Kredit Mitra 25, dan program bantuan Rp 1 miliar untuk desa wisata.

Di bidang pengembangan transportasi massal juga terus digenjot melalui pengembangan Bus Trans Jateng. Bus murah dengan fasilitas wah ini sudah dibuka untuk koridor Semarang-Bawen, Purwokerto-Purbalingga, dan sebentar lagi dibuka Semarang-Kendal.

Untuk Bandara, Ganjar saat ini berupaya mendorong percepatan pembangunan Bandara Jenderal Sudirman di Purbalingga, Bandara Ngloram di Blora, dan pengembangan Bandara Dewandaru di Karimunjawa. Tak hanya itu, Ganjar juga bertekat melakukan pengembangan kawasan industri baru.  Wilayah Rembang dan Brebes digadang-gadang untuk dijadikan kawasan industri baru.

Ganjar dan Taj Yasin juga fokus pada rintisan pertanian integrasi, yang diwujudkan lewat kartu tani. Kartu tani tidak sekadar alat untuk membeli pupuk bersubsidi, namun di dalamnya berisi data. Jika data pertanian sudah terakomodasi dalam satu sistem, maka pemerintah akan mudah mengontrol daerah panen, mencegah penumpukan stok, dan kelangkaan pupuk.

Program lainnya adalah rumah sakit tanpa dinding, yakni penjemputan dan penanganan pasien secara cepat melalui pelaporan medsos dan call center.

Jika reformasi birokrasi dan pelayanan masyarakat terintegrasi di kabupaten/kota terwujud, maka pelaksanaan rumah sakit tanpa dinding akan lebih bisa dirasakan masyarakat lebih luas.

Yang tidak kalah menarik adalah pelaksanaan Festival Seni yang sudah mulai diwujudkan tahun ini. Program yang ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini mulai menggarap empat festival: Tari, Film, Sastra, dan Teater. Semua program tersebut tidak hanya dilakukan sekali, namun berkesinambungan selama lima tahun.

Pertumbuhan Ekonomi Naik
Di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dalam kurun setahun ini, wajah Jawa Tengah juga berubah. Ganjar-Yasin telah bekerja sesuai jalur atau on the track. Meski baru setahun memerintah, beberapa bidang, khususnya ekonomi dan pemerintahan menjadi lebih baik.

Ganjar Menraktir mi ayam warga korban banjir

Dari sisi pertumbuhan ekonomi Jateng, misalnya, selama setahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Jateng saat ini sudah mencapai 5,62 persen. Inflasi juga sangat terkendali dan relatif rendah selama setahun terakhir. Indeks gini ratio juga menunjukkan hal yang positif. Kesimpulannya, secara makro kondisi ekonomi jateng setahun terakhir membaik.

Perbaikan kondisi itu karena pengaruh banyak faktor. Selain pondasi yang kuat yang dibuat Ganjar-Heru pada pemerintahan sebelumnya, gebrakan-gebrakan Ganjar Yasin pada periode ini juga sangat berpengaruh positif. Ya, Ganjar-Heru lima tahun lalu berhasil membuat pondasi, dan saat ini Ganjar-Yasin melakukan akselerasi.

Peran Medsos
Dari semua keberhasilan program pasangan Ganjar-Taj Yasin, mungkin peran media sosial tidak bisa dikesampingkan. Penggunaan media sosial seakan menjadi ujung tombak pelayanan kepada publik.

Pelayanan yang mudah, murah dan cepat sangat mengena di hati masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang pelayanan publik telah membuat simpel urusan birokrasi, dan itu yang selama ini diinginkan masyarakat.
Lewat kanal aduan itu, masyarakat juga bisa memeroleh informasi, menyampaikan kritik dan saran kepada pemerintah, hingga mengadukan permasalahan yang ditemuinya. Gratis dan gampang.

Tidak hanya memberi kemudahan bagi masyarakat lewat pelayanan mudah, murah dan cepat di setiap SKPD, Ganjar juga membuka layanan masyarakat melalui berbagai kanal aduan pribadinya.

Banyak aduan yang diterima mantan anggota DPR RI ini usai media sosial pribadinya dibuka untuk masyarakat. Bahkan masyarakat terkadang tidak peduli apakah permasalahan yang diadukannya sesuai dengan kewenangan gubernur atau tidak.

“Lapor sandal pedhot ning nggonku, laporan jomblo ya ana, kabeh dilaporkan gubernure,” kata Ganjar suatu ketika, tentang beragam aduan yang masuk di medsos pribadinya.
Mewujudkan layanan yang mudah, murah, cepat dan tuntas memang bukan hal yang gampang.

Dirintis sejak 2013, kanal pengaduan masyarakat “LaporGub” di Provinsi Jawa Tengah berkembang secara bertahap. Mulai dari kanal website LaporGub, kemudian tahun 2014 berkembang dengan adanya “SMS LaporGub!” dan “hotline laporgub” hingga tahun 2019 ini sudah menjangkau aplikasi android “Laporgub!” serta media sosial lain seperti instagram, facebook dan twitter.

Lewat kanal-kanal tersebut, hanya dalam hitungan jam, pengaduan masyarakat dapat diselesaikan dengan baik dan tuntas. Dampak positif dari semua program itu, masyarakat menjadi semakin dekat dengan pemerintah, birokrasi pun menjadi tambah kasual.

Keseriusan Ganjar dalam pengembangan layanan pengaduan masyarakat dituangkan dalam Pergub No 13 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pengaduan Masyarakat di Jawa Tengah. Melalui Pergub tersebut dapat memantau penanganan pengaduan masyarakat yang dilakukan SKPD. Sebab data yang terekam dalam sistem memperlihatkan berapa laporan yang direspon atau tidak, maka data itu yang menjadi dasar evaluasi terhadap SKPD.

Satu hal lagi yang mengakibatkan Jawa Tengah menjadi sorotan daerah lain untuk menirunya adalah ketegasan sang gubernur dalam bersikap melawan tindak pidana korupsi. Hal itu diwujudkan dengan berbagai program dalam pemerintahan, salah satunya adalah lelang jabatan.

Dampaknya sangat terasa dalam mewujudkan birokrasi bersih dan melayani. Ganjar ingin pembelajaran tentang antikorupsi diajarkan di sekolah, dan Jawa Tengah siap menjadi pelopornya.

Dari sikap dan cara memimpin Ganjar dan Taj Yasin itulah, dampak kemajuan Jawa Tengah bisa dirasakan, kesejahteraan rakyat meningkat, sektor ekonomi bergerak positif, penduduk miskin berkurang, dan sosok Ganjar atau Taj Yasin menjadi tidak asing di hati warga.

Di mana pun, kehadiran kedua pemimpin itu selalu dielu-elukan. Mereka seakan rela berpeluh daripada melihat warganya mengeluh. Mereka selalu hadir ketika yang lain masih berpikir.**(Udin Saerodji)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *