Menuju Parlemen Modern lewat Peningkatan Kualitas Kinerja

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi menandaskan, pihaknya tidak pernah alergi terhadap kritik. Bahkan selama dirinya menjabat ketua, lembaga wakil rakyat yang dipimpinnya selalu siap menerima kritik secara terbuka dari masyarakat, terutama terkait kinerja anggota dewan.

Hal itu disampaikan Rukma saat menjadi nara sumber dialog Prime Topic dengan tema “Transformasi Parlemen Modern” yang berlangsung di Gets Hotel Semarang, Senin (2/9). Selain Rukma, acara yang diselenggarakan Radio Tri Jaya FM itu juga menghadirkan nara sumber lain, yakni Ketua KPUD  Jateng, Yulianto Sudrajat dan Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yuwanto.

Menurut Rukma Setyabudi, kritik
menjadi bagian dari upaya membuka ruang publik yang merupakan salah satu indikator sebuah instansi yang transparan dan akuntabel. Selama ini citra dewan selalu digambarkan dengan potret buram sebagai sebuah instansi yang minim bekerja.
“Padahal, dewan pun memiliki proses yang bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat,” tuturnya.

Dia mencontohkan, selama ini dewan hanya dinilai kinerjanya berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) yang dihasilkan dalam setahun. Padahal, menghasilkan sebuah Perda bukanlah proses yang gampang.

Dalam memroses Perda, lanjut Rukma, harus melalui beberapa tahapan seperti studi banding, hiring, menyerap aspirasi, reses, dan program lainnya dalam memahami perkara yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat hingga aspirasi tersebut diserap, kemudian diolah dalam Badan Pembuat Peraturan Daerah, sampai pada sidang dalam rapat paripurna.

“Pembahasannya juga bukan hal yang singkat. Dalam Sidang Paripurna ada proses saling berdebat, saling adu argumen, saling merebutkan pendapatnya, yang dirasa paling baik untuk masyarakat. Hal itulah yang kemudian bisa membuat dewan saling adu argumen, namun tujuannya positif. Karena setiap perencanaan kebijakan pasti ada kekurangan dan kelebihannya,” tuturnya.

DPRD Jateng sendiri, kata Rukma, sudah menerapkan konsep menuju parlemen modern sejak 2014, di antaranya telah ditunjukkkan dengan ruang informasi publik berupa tiga website yang bisa diakses publik. Hal itu merupakan pondasi awal untuk menjadi perlemen modern, hingga diharapkan masyarakat bisa langsung menyalurkan aspirasi tidak hanya menunggu bertemu.

Senada dengan Rukma, Ketua KPU Jateng, Yulianto Sudrajat mengatakan, kualitas kinerja dewan dan andilnya terhadap kepentingan publik sangat penting. Rekam jejak dewan terhadap produk yang dibuat, dan seperti apa prosesnya harus diketahui masyarakat untuk memberikan pemahaman yang baik.

Proses menjadi dewan, dia menambahkan, tidaklah mudah dan mahal biaya yang dikeluarkan.
Jika kinerja dianggap baik, maka anggota dewan bisa jadi akan dipercaya kembali duduk di posisinya.

“Jadi, parlemen modern bisa dikatakan antara aspirasi dan kebijakan saling berkaitan. Jika dilihat dari sejarahnya, deklarasi parlemen modern sendiri merupakan kesepakatan parlemen secara internasional untuk lebih terbuka, di antaranya memanfaatkan teknologi informasi dan bisa diakses secara jarak jauh oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Yuwanto mengatakan, parlemen yang modern adalah parlemen yang membuka ruang publik seluas-luasnya kepada masyarakat, sehingga harus akuntabel dan harus transparan.

Selain memiliki akuntabilitas yang tinggi, tutur Yuwanto, segala yang terkait dengan DPRD Jateng juga harus bisa diakses secara mudah oleh masyarakat, di antaranya DPRD Jateng harus menggunakan informasi digital yang bisa diakses oleh masyarakat, sehingga informasi apa pun harus dibuka dan bisa menerima masukkan dari rakyat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *