Siapkan SDM Unggul Sejak dalam Kandungan

SEMARANG (Asatu.id) –  Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono KS mengingatkan, persoalan kesehatan merupakan pangkal awal peningkatan kualitas SDM. Hal itu juga sesuai dengan program peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang menjadi prioritas Presiden RI Ir Joko Widodo di periode kepemimpinan keduanya.

Hal itu disampaikan Sekda saat membuka kegiatan Orientasi Optimalisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Pencegahan Stunting, di Patra Convention Hotel, Selasa (20/8).

Sri Puryono mengatakan, untuk mempersiapkan SDM yang unggul, perhatian harus diberikan sejak ibu mengandung. Makanan yang dikonsumsi ibu hamil harus bergizi dan rutin memeriksakan diri. Sehingga, jika terdapat gangguan kehamilan, segera dapat terdeteksi dan ditanggulangi.

Ditambahkan, setelah anak lahir, 1.000 hari pertama usianya, nutrisi anak harus dipenuhi dengan baik, termasuk memberikan ASI eksklusif. Pihaknya pun merasa prihatin dengan adanya kecenderungan ibu muda di era sekarang, yang lebih memilih makanan fastfood untuk anaknya.

“Makanan B2SA (beragam bergizi seimbang dan aman) penting. Jangan asal makan. Sekarang ini ibu-ibu mudah cenderung memilih gampange. Dikasih mi instan atau fried chicken. Jangan yang fastfood. Dikenalkan dengan gado-gado, karedok, sup atau sayur bening. Itu juga gampang,” pesannya.

Perlu diketahui, kata Sekda, Jateng saat ini masih menghadapi persoalan stunting atau kurang gizi kronis pada anak, yang disebabkan asupan gizi kurang dalam waktu cukup lama. Biasanya saat anak berada dalam kandungan. Pada September 2018, di Jawa Tengah ada 11 kabupaten di 110 desa yang perlu diintervensi untuk menyelesaikan stunting.

Prevalensi stunting di Jawa Tengah, imbuhnya, saat ini sebesar 28%. Dengan angka stunting yang lebih rendah dari angka nasional yang tercatat 37.2%, sudah semestinya semangat Jawa Tengah dalam mewujudkan provinsi bebas stunting terus meningkat.

“Jateng mengupayakan bebas dari kasus stunting dengan target di bawah 20% pada 2023. Target ini merujuk pada angka WHO, di mana jika di atas 20% dianggap sebagai negara yang memiliki masalah kesehatan,” bebernya.

Beberapa upaya Jateng dalam menurunkan angka stunting adalah melalui pengadaan jamban, pemberian vitamin bagi bayi, pemberian gizi tambahan bagi ibu hamil, dan pelaksaan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. Upaya yang dilakukan pemerintah itu, tandasnya, perlu partisipasi dari masyarakat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *