Seandainya Ada Brotoseno di Tiap Provinsi, Negara akan Sejahtera

SEMARANG (Asatu.id) – Pagelaran wayang dengan lakon “Dewa Ruci” di halaman RRI Semarang berlangsung dalam suasana hujan rintik, akhir pekan lalu. Lakon “Dewa Ruci” yang mengisahkan tentang kegigihan Raden Brotoseno atau Werkudara dalam berguru dibawakan secara apik oleh dalang Ki Sunarso.

“Lakon Dewa Ruci itu sangat Islami, di mana Raden Brotoseno mencari ilmu tasawuf. Dia sudah mencapai ma’rifatullah. Artinya bahwa manusia kalau sudah mampu mengendalikan hawa nafsu akan bisa bertemu dengan Tuhannya,” kata sang dalang yang juga berprofesi sebagai hakim PN Jakarta Pusat itu.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, yang hadir menyaksikan pagelaran wayang itu pun mengagumi karakter tokoh pewayangan Raden Brotoseno. Menurutnya, Raden Brotoseno adalah cerminan pribadi yang berintegritas dan patuh kepada sang guru serta sungguh-sungguh dalam menimba ilmu.

“Dewa Ruci itu memiliki piwulangluhur. Ketika seseorang memiliki komitmen yang tinggi, tegas, jujur, dan tekun, maka dia akan menemukan ilmu. Kalau di Indonesia ada Brotoseno 34 saja di masing-masing provinsi, saya kira negeri kita akan semakin aman dan sejahtera karena itu adalah panutan,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah itu juga mengapresiasi pagelaran wayang yang mulai dihelat rutin oleh RRI Semarang. Dia berharap, pagelaran wayang tidak sebatas pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat, namun juga memberikan teladan bagi mereka. Karena banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik dari kisah pewayangan.

“Pagelaran wayang ini bukan sekadar tontonan, namun juga tuntunan. Kula menawi wonten pagelaran wayang menika hati menjadi semangat. Ini selaras dengan Trisakti Bung Karno, berkepribadian dalam kebudayaan, bahwa budaya adalah ruhnya bangsa,” tegasnya.

Sri Puryono yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah itu ingin kesenian daerah dapat diajarkan sebagai ekstrakurikuler wajib di bangku sekolah. Selain sebagai wujud nyata upaya melestarikan kesenian daerah, para siswa sebagai generasi muda juga dapat mengenal dan mencintai budaya lokal sejak dini.

“Jangan hanya ngendikan nguri-uri, tetapi juga harus nguripi, ngurupi, tur ngepyakke. Saya harap kesenian daerah dan kearifan lokal menjadi mata pelajaran ekstrakurikuler wajib, seperti pramuka menjadi ekstrakurikuler yang wajib diikuti. Misalnya di Semarang dan Solo itu gudangnya wayang silakan, jangan sampai itu hilang. Masyarakat harus ada filter. Budaya asing boleh masuk, tapi harus disaring terlebih dahulu,” harapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *