Perlunya Buang Budaya Ngaret dan Terapkan Efisiensi Waktu

SEMARANG (Asatu.id) – Era digitalisasi dengan kemajuan masyarakat yang kian modern, menuntut masyarakat untuk lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu.

Karena begitu berartinya waktu, sehingga budaya mengulur waktu atau ngaret menjadi hal yang harus dibuang jauh.

Menurut Senior Manager Marketing Grab Indonesia, Michael Dwi Putra, majunya peradaban masyarakat modern sekarang yang semakin kompleks saat ini, membuat waktu menjadi sangat berarti dan tidak ingin terbuang sia-sia.

“Memanfaatkan waktu secara maksimal akan berimbas pada produktivitas kerja dan memengaruhi perekonomian negara,” kata Michael pada kegiatan kampanye antingaret di Semarang, Selasa (6/8).

Menurut Michael, kampanye antingaret tidak hanya dilakukan di Kota Semarang saja, tetapi juga di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dan beberapa kota besar lainnya.

Michael menandaskan, pihaknya sangat mendukung peningkatan produktivitas kerja dengan menghargai waktu. Salah satunya, mengampanyekan gerakan antingaret.

“Sebenarnya, kita ingin meng-highlight tentang fenomena ngaret yang mungkin sudah sangat populer di Indonesia. Apa yang mau kita highlight di sini bukan kita memfasilitasi orang yang sudah terbiasa dengan budaya malas, tapi justru orang-orang yang sangat menghargai waktu. Kita menyebutnya sebagai orang-orang pejuang antingaret,” tutur Michael.

Sementara Bayu A Yulianto, sosiolog dan peneliti independen memaparkan, masyarakat modern harus bisa menghilangkan budaya ngaret. Karena dampak dari budaya selalu mengulur waktu itu sangat berpengaruh pada produktivitas kerja.

“Hadirnya transportasi online sebagai pendukung mobilitas masyarakat modern sangat dibutuhkan. Kecepatan dan maksimal di dalam memanfaatkan waktu ini sangat penting,” ucap Bayu.

Menjamurnya transportasi online sekarang ini, lanjut Bayu, harus bisa menjadi solusi di dalam mengurangi budaya ngaret di kalangan masyarakat modern.

Masyarakat harus bisa memanfaatkan sekaligus menikmati digitalisasi. Namun perlu dipahami bahwa era revolusi industri 4.0 dengan segala inovasinya membutuhkan dukungan semua pihak untuk saling bersinergi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *