Demi Jateng, Ganjar Sebut OJK Bedhol Desa dan Siap Bantu “Pol-polan”

SEMARANG (Asatu.id) – Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk dibantu agar menimbulkan efek ganda (multiplayer effect) dalam perekonomian daerah. Penilaian itu disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

Dari mapping OJK, menurut Wimboh, Jateng saat ini sudah didukung infrastruktur memadai dan terus berkembang dengan akan dibangunnya jalan tol Solo-Jogja dan Bawen Jogja. Selain itu, masih adanya kompetisi usaha yang tinggi di dunia industrinya.

“Dari mapping itu, ada efek ganda yang akan bisa mempengaruhi perekonomian daerah. Apalagi, dari garis kebijakan yang dilakukan pemerintah. Kita akan prioritaskan untuk membantu Jateng membuat kebijakan keuangan yang in line,” kata Wimboh Santoso mengawali Board Retreat di Gumaya Tower Hotel Semarang, Minggu (21/7) malam.

Wimbo yang dikenal sebagai ekonom dan pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) di New York pada 2012 itu tidak sendirian, dalam sharing session bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo itu, ia mengajak seluruh anggota Dewan Komisioner OJK untuk berdiskusi.

Wimbo berharap, dalam menyusun kebijakan, OJK bisa memberikan kontribusi kepada Jateng untuk alokasi kredit, orientasi ekspor, substitusi impor, memberikan masukan kepada perbankan untuk bussines plan. Sehingga, angka pertumbuhan ekonomi di Jateng sebesar 7 persen dapat tercapai bahkan melebihi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi nasional ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi di daerah. Maka dari itu, percepatan pembangunan daerah, salah satunya Jawa Tengah, nantinya akan berkontribusi signifikan pada akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional,” tandasnya.

Sebelum memulai paparan, Ganjar pun menyampaikan terimakasih karena OJK “bedhol desa” untuk membantu Jateng secara holistik.
Dalam kesempatan itu, Wimbo mengajak seluruh jajarannya, seperti Ketua Komite Etik Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Riswinandi.

Kemudian, Ketua Dewan Audit Ahmad Hidayat, Anggota Dewan Komisioner OJK yang Membidangi Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara, Ex-Officio Kementerian Keuangan, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesi Mardiasmo, serta Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara.

Dari diskusi yang dimulai pukul 20.03 hingga pukul 23.30 itu, Ganjar bisa melihat apakah kebijakan yang dibuat apakah regulasinya akan mengganggu atau tidak. Sektor mana yang akan menjadi prioritas. Insentif dan disinsentif apa yang bisa dilakukan, serta pola pembiayaan apa yang dilakukan.

“Saya bisa dapatkan dari forum ini, sekarang kalau mau tumbuh sesuai target 7 persen, maka derivate-nya harus disiapkan. Kita akan menurunkan detail programnya, meski nanti akan ada problem. Pengusaha kita ajak sharing, dan akan kita tangani secara kasuistik. OJK membantu pol-polan ini,” kata Ganjar.

Pemerintah pusat yang secara prioritas akan membantu pariwisata dan industri pun menurut Ganjar, pihaknya tidak hanya akan fokus pada keduanya, karena masih ada ribuan program di kabupaten dan kota di Jateng yang akan digarap.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *