Majukan Ekotren, Ratusan Pengelola Ponpes Dilatih

SEMARANG (Asatu.id) – Sebanyak 120 pengelola pondok pesantren (Ponpes) di Jawa Tengah, akan mendapatkan Bimbingan Teknis (Bintek) dan Praktik Kerja Lapangan Pengembangan Usaha Koperasi Pondok Pesantren. Program tersebut dari Dinas Koperasi dan UKM Jateng bekerja sama dengan PT Sampoerna.

Ponpes tersebut tersebar di empat eks keresidenan berbeda. Masing-masing Eks Keresidenan Pati untuk angkatan pertama, Eks Keresidenan Surakarta angkatan kedua, Eks Keresidenan Kedu untuk angkatan ketiga dan di Eks Keresidenan Pekalongan untuk angkatan keempat. Untuk masing-masing angkatan, bimbingan teknis diberikan pada 30 ponpes.

Saat membuka kegiatan tersebut untuk angkatan pertama di Fave Hotel, Rembang, Senin (24/6), Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, bintek yang diberikan, hendaknya diimprovisasi para peserta. Sehingga akan tercipta diskusi yang dapat menambah pengetahuan, untuk diaplikasikan dalam menjalankan usaha.

Wagub menilai, dari puluhan ribu ponpes di Nusantara, masih sangat sedikit yang ekonominya mapan. “Di sinilah kenapa kami (Pemprov Jateng) ingin memajukan pondok pesantren,” tuturnya.

Gus Yasin berpendapat, selama ini, dalam menjalankan usaha, banyak ponpes yang belum memahami pentingnya manajemen mengelola toko. Mulai dari manajemen penataan ruang, barang hingga keuangan. Sehingga, kemajuan usahanya belum menggembirakan.

“Kalau di mini market, ada mekanisme bagaimana barang di toko penataannya bisa menarik perhatian konsumen dan memengaruhi mereka untuk membeli. Produk anak-anak, tidak boleh ditempatkan di rak yang tinggi karena mereka tidak bisa melihatnya. Terkadang kita (ponpes) lupa, produk makanan diletakkan dekat dengan produk mandi, sehingga menyalahi aturan penataan produk,” jelasnya.

Diharapkan, melalui pelatihan yang diselenggarakan, tidak sekadar dapat membesarkan toko, tapi juga memunculkan potensi ponpes untuk memroduksi produk. Dia melihat ada potensi tersebut di Jateng karena memiliki sekitar 40 ribu ponpes.

“Dari 40 ribu sekian ponpes, jika 25 persennya saja mau membuat produk, sudah ada ribuan produk yang dihasilkan. Jika kita jadikan satu toko ritel sendiri, kita tidak perlu memasarkan barang-barang yang sudah memiliki pasar. Akan tetapi, yang perlu kita promosikan adalah UKM kita, yang diproduksi ponpes, yang belum mempunyai pasar,” terang mantan anggota DPRD Jateng itu.

Melalui produksi, imbuh dia, akan muncul pula ponpes yang mengusai usaha dari sisi hulu hingga hilir. Artinya, akan lebih banyak pihak yang mendapat dampak positif.

“Saya berharap, pesantren bisa mengusai produksi dari hulu sampai hilir. Kita tidak hanya memasarkan tapi juga jadi produsen yang menciptakan lapangan pekerjaan, dan menyejahterakan pula masyarakat di sekitarnya,” beber Gus Yasin.

Dia menambahkan, jika hal itu terwujud, tentunya ekonomi ponpes akan menjadi salah satu benteng kekuatan ekonomi negara.

“Apa yang terjadi jika sudah seperti itu? Harapan saya, dengan tumbuhnya ekonomi pesantren, akan ikut membentengi NKRI. Sudah saatnya dakwah kita tidak lillahita’ala saja. Tapi mendorong dengan memberdayakan masyarakat,” paparnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *