Hendi : Penutupan Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning Keputusan Final

SEMARANG (Asatu.id) – Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, rencana penutupan Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning saat ini sudah dalam tahapan final, dimana batas akhir penutupan yakni tanggal 15 Agustus 2019 mendatang.

“Kenapa baru sekarang? Ini moment yang tepat, menurut saya SK sudah sangat identik dengan Kota Semarang, sehingga keputusannya adalah kita tidak ingin orang mencari nafkah dari hal-hal yang menurut norma dan kaidah agama tidak pantas, sehingga penutupan Sunan Kuning dirasa sudah sangat tepat,” katanya, Kamis (20/6).

Lebih lanjut, Hendi sapaan akrab Walikota itu mengungkapkan, terkait dengan adanya permintaan dari beberapa pihak yang menginginkan tempat karaoke dipertahankan, menurutnya selama memiliki ijin yang legal, pihaknya akan mendukung.

“Karoke minta dipertahanka, kita tanya apakah ada ijinnya, kita lihat peruntukannya kawasan tersebut, kalau memang untuk kawasan bisnis dan niaga, pasti mereka bisa dapat ijin, pada saat mereka dapat ijin ini income buat pemerintah, cuman jangan kemudian mereka minta tidak di pertahankan tapi mereka tidak punya ijin yang mengakibatkan warga yang lain pada protees, intinya jika selama izinnya ada kita tidak pernah melarang untuk beriwrausaha,” tegasnya.

Menurutnya, apapun bentuk investasi sepanjang hal tersebut tidak melanggar dan memiliki ijin yang jelas pihaknya akan tetap mendukung. Namun demikian, perijinan juga tidak serta merta memberikan ijin begitu saja, harus dilihat terlebih dahulu kawasan tersebut diperuntukan untuk apa.

“Bentuk investasi sepanjang ketntuan yang ada ya tidak masalah, mari kita lihat kawasan itu peruntukannya apa, jika diperbolehkan bisa diurus ijin,” ungkapnya.

Adapun terkait dengan kekhawatiran masyarakat, bahwa jika Sunan Kuning ditutup maka para pekerja prostitusi akan menyebar di jalanan, Hendi menegaskan,supply and demand, artinya sepanjang tidak ada yang berminat maka dengan sendirinya para pekerja prostitusi akan hilang dengan sendirinya.

“Sepanjang kemudian kita bareng-bareng mengerti bahwa prosttitusi pekerjaan yang tidak pantas dilakukan, saya rasa tidak akan ada yang mau. Sisalnya jika mereka mangkal di simpang lima, pasti nanti akan ditertibkan satpol, kemudian jika tidak ada yang mau transaski lama-lama mereka akan hilang sendiri. makanya kita buat pelatihan, kita kasih stimulan salah satunya uang saku untuk pengentasan hal itu,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *