Sudharto : Pemerataan Guru Tingkatkan Kualitas Pendidikan

SEMARANG (Asatu.id) – Kualitas dan mutu pendidikan selama ini belum mengalami pemerataan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Selain permasalahan input kecerdasan siswa yang berbeda-beda, faktor pemerataan guru juga disebut-sebut menjadi penyebabnya.

Kondisi ini dapat terlihat dengan adanya output kecerdasan siswa yang tidak sama di antara masing-masing sekolah. Program pemerataan mutu diperlukan dalam peningkatan pendidikan nasional. Selama ini, mutu guru belum merata sehingga pemerataan mutu pendidikan belum bisa diaplikasikan di sekolah.

”Indikator ketidakmerataan kualitas dan mutu pendidikan dapat terlihat dari ujian yang dilaksanakan setiap tahunnya. Masing-masing sekolah memiliki nilai akhir rata-rata siswa yang berbeda-beda. Guru itu harus bisa mengajar dan mendidik. Dalam hal ini, guru mengajarkan kemampuan teknologi, ilmu pengetahuan dan seni kepada siswanya. Selain itu, mereka juga mesti memiliki kemampuan mendidik berkaitan dengan akhlak siswanya,” kata Ketua Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Tengah, Sudharto.

Ditambahkannya, nilai rata-rata ini bahkan tidak jarang perbedaannya cukup jauh, antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Relevansinya nanti, ujar dia, mampukah lulusan yang ada dapat memberikan jawaban atas keberadaan dunia kerja atau tidak.

”Setiap anak punya potensi kecerdasan yang perlu dikembangkan. Tidak setiap anak cerdas secara intelektual, ada yang memiliki potensi dan bakat berbeda. Misalnya saja, setiap anak belum tentu bisa menyanyi padahal memiliki kemampuan untuk bersuara. Dalam hal ini, tujuan pendidikan masih sebatas mengembangkan potensi dan bakat anak,” terang dia.

Sudharto mengatakan, kualitas dan mutu pendidikan itu standarnya disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional. Dari dulu hingga saat ini selalu berbicara tentang kecerdasan dan karakter akhlak yang ada pada seorang siswa.

”Kecerdasan yang tidak dilambari oleh budi pekerti yang luhur, akan membuat seorang anak menggunakannya untuk mengibuli atau membodohi temannya, bahkan orang lain,” ungkap Pakar Pendidikan Kota Semarang tersebut.

Saat ini, pendidikan menitikberatkan pada dua faktor melalui pendidikan karakter yakni perilaku siswanya, dan pendidikan yang bertumpu pada kecerdasan komprehensif.

”Pendidikan komprehensif yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kinestetis atau berhubungan dengan keterampilan siswa. Nantinya, diharapkan keduanya harus dapat berjalan dengan seimbang,” papar dia.

Menurutnya, kecerdasan pada diri setiap anak itu berbeda-beda. Seharusnya, sebuah kewajaran jika ada seorang siswa yang cepat menyelesaikan pendidikannya. Sebaliknya, ada anak yang harus menempuh pendidikan lebih lama dari waktu yang ditentukan. Jaman dulu, seorang anak tidak lulus sekolah itu merupakan hal yang biasa. Namun, saat ini telah terjadi perubahan arah pendidikan, di mana anak yang tidak lulus kemudian dipaksa untuk mengikuti remidi agar bisa lulus.

”Membuat anak cerdas turut dipengaruhi infrastruktur pendidikan. Salah satunya dengan keberadaan prasarana dan sarana penunjangnya. Selain itu, ketika berbicara mutu pendidikan, SDM guru juga harus diperhatikan. Seorang guru tidak hanya mengajar atau mentransformasikan ilmunya terkait dengan kecerdasan. Namun, harus pula bisa mengajarkan pendidikan karakter pada siswanya, agar dapat berakhlakul kharimah,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *