Lebaran Kian Dekat, Harga Kebutuhan Pokok Masih Stabil

SEMARANG (Asatu.id) – Harga sejumlah kebutuhan pokok di beberapa pasar tradisional di Provinsi Jateng menjelang Lebaran saat ini masih terpantau stabil. Hal itu diketahui dari pantauan yang dilakukan Komisi B DPRD Jateng.

Sekretaris Komisi B DPRD Jateng, Messy Widiastuti, membenarkan kondisi tersebut saat menjadi pembicara utama dalam acara ‘Dialog bersama Parlemen Jateng’ dengan tema ‘Ketersediaan dan Keterjangkauan Sembako Jelang Lebaran’ di Lobi Hotel Gets, Jalan MT Haryono Kota Semarang, Kamis (23/5).

Legislator PDIP itu juga mengakui, memang ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga tapi kenaikannya tidak terlalu signifikan dan masih terjangkau masyarakat.

“Soal daya beli, saat ini masih cukup baik, meski harga ayam dan telur sempat mengalami kenaikan,” katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Agus Wariyanto juga mengatakan, secara stok kebutuhan masih mencukupi seperti produksi beras yang masih surplus. Tidak hanya beras, produksi ternak juga masih aman seperti kambing.

“Sebagai contoh, komoditas telur masih aman karena Jateng punya daerah penghasilnya. Secara data, sekitar 20 persen produksi telur Jateng berasal dari Kabupaten Kendal,” kata Agus.

Sementara Kepala Disperindag Jateng, Arief Sambodo, ikut menyoroti soal pengendalian harga. Dikatakannya, selama 3 tahun terakhir, inflasi di Provinsi Jateng masih dibawah inflasi nasional. Data Disperindag Jateng mencatat, inflasi Jateng sebesar 3,71 pada 2017 dan 2,82 pada 2018.

“Untuk saat ini, bahkan sejak Maret, petugas Disperindag sudah disebar untuk memantau harga sembako. Hasilnya, harga cenderung stabil. Harga stabil itu tercukupi didukung dengan stok yang masih aman. Contohnya stok beras di Bulog masih tercukupi untuk kelas medium.Termasuk, komoditas gula pasir, minyak goreng yang masih mencukupi stoknya hingga 2 bulan ke depan. Untuk bawang merah, masih ada 2 ton di gudang Bulog. Dari ketersediaan stok pangan itu, diharap inflasi Jateng tetap terkendali,” papar Arief.

Meski begitu, ia mengakui, ada beberapa komoditas yang belum bisa dikendalikan karena merupakan barang impor. Ia mencontohkan komoditas bawang putih 95% dicukupi melalui impor. Sedangkan 5 persennya dari produksi lokal. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *