19 PGOT Terjaring Razia Satpol PP

SEMARANG (Asatu.id) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang melakukan operasi penertiban pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT) di sejumlah daerah di Kota Semarang, Selasa (21/5). Dalam operasi tersebut, 19 orang PGOT yang terjaring langsung diamankan petugas Satpol PP untuk diberi pengarahan.

Belasan PGOT tersebut langsung digelandang ke Mako Satpol PP di Jalan Ronggolawe Barat, Gisikdrono, Semarang Barat. Selanjutnya, mereka diserahkan kepada Panti Rehabilitasi Sosial (Resos) Among Jiwo, Ngaliyan, untuk menjalani pembinaan. Kegiatan razia PGOT memang menjadi prioritas program kerja dari Satpol PP, khususnya menjelang dan sesudah Lebaran.

“Ini merupakan rangkaian dari beberapa kegiatan yang digelar Satpol PP dalam beberapa hari belakangan pada Ramadhan. Selain razia PGOT, kami juga melakukan pelepasan reklame dan brosur yang menempel di pohon-pohon dan menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Kartini,” ujar Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto, usai acara sertijab jabatan, Rabu (22/5).

Sebelumnya, jabatan Kasatpol PP diemban oleh Hendro Pudyo Martono, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang.

Untuk razia PGOT dan psikotik tersebut, kata Fajar, dilaksanakan di wilayah Semarang bagian timur, utara, dan barat. Seperti di Jalan Thamrin, Banyumanik, Majapahit, Pedurungan, Ngaliyan, Krapyak, dan Mangkang. Ini merupakan bagian dari operasi yustisi penegakan Perda No 5 Tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan di Kota Semarang.

“PGOT yang terjaring razia kali ini yakni laki-laki dewasa berjumlah 12 orang dan seorang anak kecil. Sementara untuk yang perempuan ada lima orang dewasa dan seorang anak,” ungkap Kasatpol PP yang baru saja dilantik beberapa waktu ini.

Menurutnya, waktu menjelang dan sesudah Lebaran harus diwaspadai dengan merebaknya PGOT. Momen ini seringkali dimanfaatkan PGOT untuk beroperasi di Kota Semarang. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 80 PGOT yang terjaring razia selama Ramadhan.

“Kami mengantisipasi beredarnya PGOT, terutama PGOT kiriman yang berasal dari daerah luar Kota Semarang. Kebanyakan, mereka yang terjaring razia merupakan anak-anak punk yang seringkali mengamen di sejumlah tempat. Banyak yang melarikan diri saat hendak ditangkap,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *