Sambil Gowes, Ganjar Ngabuburit Bareng Difabel dan Santri Panti Asuhan

SEMARANG (Asatu.id) – Meski waktu salat asar hampir habis, tak tampak raut lesu di wajah Muhammad Hilal Fadlullah (20). Bahkan, bersama puluhan kawannya yang tinggal di Rumah D Jalan MT Haryono Semarang, dia justru semringah saat ngabuburit (menunggu waktu berbuka puasa), Minggu (19/5).

Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat melihat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan istrinya, Siti Atikoh yang datang mengayuh sepeda ke arah Rumah D di Jalan MT Haryono Nomor 266. Usai meletakkan sepedanya, Ganjar dan istri langsung menyalami satu persatu para difabel yang telah menunggunya.

Sebelum diajak Hilal keliling Rumah D, Ganjar dipersilakan menyampaikan motivasi berpuasa dan berbangsa.

“Bagaimana kita merasakan denyut persaudaraan dalam setiap pertemuan seperti ini. Mungkin tidak terlalu banyak yang kita bagi, tapi inilah perasaan kita terhadap sesama anak bangsa, oh betapa indahnya kebersamaan. Mudah-mudahan yang seperti ini terus kita pupuk,” kata gubernur.

Rumah D memang jadi tempat berkumpul Hilal dan para difabel lain untuk mengasah keterampilan. Beragam kerajinan dan keahlian difabel diasah di situ. Dari mulai melukis, menjahit, bermusik sampai kerajinan tangan. Hasilnya, dipampang di dinding-dinding Rumah D bahkan sampai dipesan oleh instansi pemerintahan maupun hotel.

Rumah D terdiri dari dua lantai, lantai dasar tempat pelatihan kerajinan tangan dan kesenian sekaligus jadi ruang pameran. Sementara lantai dua untuk lantihan musik sekaligus ruang terapi. Hilal pun terlihat begitu lancar menjelaskan satu persatu ruang tersebut.

“Ini tempat kawan-kawan berlatih membuat lukisan, kerajinan dan berkumpul. Ini ada lukisan Beethoven, Stevie Wonder dan Gus Dur. Ini untuk motivasi teman-teman agar jangan minder. Beliau-beliau ini kan orang hebat semua,” ujar Hilal.

Aktivitas para difabel Rumah D memang membuat Ganjar takjub. Apalagi kerajinan yang dihasilkan sudah mendapat order dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan salah satu hotel ternama.

“Di sini kan kawan-kawan juga membuat bantal, mereka sudah dapat order 5.000 buah. Sudah ada yang pesen dari Pemprov Sumut dan hotel yang pesan kerajinan dari sini. Mereka saat ini terus mandiri, tugas pemerintah sekarang adalah dinas kita juga tidak kalah banyak ruang untuk meningkatkan kualitas teman-teman,” ungkapnya.

Sebelum meninggalkan Rumah D, Ganjar menyampaikan, para difabel tidak memerlukan belas kasihan, namun yang mereka inginkan adalah kesetaraan dalam hal akses.

“Tidak butuh belas kasihan, tapi akses yang sama. Akses yang sama inilah tugas pemerintah untuk mewujudkan,” bebernya.

Usai kunjungan itu, Ganjar lantas bertolak dari Rumah D dengan mengayuh sepedanya menuju ke Panti Asuhan Darussalam yang ada di Meteseh, Tembalang. Mereka menempuh jarak hampir 20 km dari MT Haryono untuk sampai di lokasi.

Setibanya di panti, Ganjar langsung mengambil takjil karena azan magrib telah dikumandangkan. Di panti tersebut, usai salat magrib, Ganjar memberikan bantuan sebesar Rp30 juta.

“Semoga para santri selalu menghormati dan mencintai bangsanya, gurunya agar cita-citanya tercapai. Semoga puasa kita diterima, ibadah kita diberi kelancaran dan keikhlasan,” katanya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *