USAID Madani dan Pemprov Jateng Jajaki Kerja Sama Peningkatan Kapasitas OMS

SEMARANG (Asatu.id) – USAID Madani mengawali penjajakan kerja sama peningkatan kapasitas dan keberlanjutan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di daerah dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Saat beraudiensi dengan Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono di Ruang Rapat Sekda, Kamis (16/5), Project Manager USAID Lutfi Ashari menjelaskan, pemberdayaan OMS sebagai mitra pemerintah  dinilai penting untuk mendukung keberhasilan pembangunan di daerah, termasuk peningkatan kualitas pelayanan publik.

“Madani sebenarnya adalah program penguatan OMS. Tujuannya, menguatkan kapasitas mereka, sehingga bisa bekerja sama erat dan berkontribusi secara positif terhadap pembangunan di kabupaten/ kota,” terangnya.

Lutfi menambahkan, program Madani yang berlangsung lima tahun mendatang menyasar delapan provinsi di Tanah Air berdasarkan sejumlah kriteria penentu. Jateng menjadi salah satu provinsi yang terpilih karena hasil Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EKPPD) masuk dalam kategori baik.

Selain Jateng, beberapa provinsi lain yang menjadi sasaran program ini di antaranya Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Tengah. Dari setiap provinsi nantinya akan diambil empat kabupaten/ kota untuk peningkatan kapasitas OMS-nya. Jadi, terdapat 32 kabupaten/ kota yang menjadi sasaran program Madani secara nasional.

“Fokus program Madani adalah penguatan akuntabilitas dan keanekaragaman sosial. Akuntabilitas ini mencakup anti korupsi, dana desa, dan lainnya. Program Madani ini nilainya 19,8 juta Dollar AS selama lima tahun,” lanjutnya.

Personel tim Madani, Sunardi menerangkan, terdapat beberapa isu atau area tematik yang dapat menjadi fokus OMS dalam menerapkan program Madani. Meliputi anti korupsi, pelayanan publik, tata kelola sumber daya alam, kesehatan, dan keberagaman sosial.

Sementara itu, Sekda Sri Puryono menyambut baik penjajakan kerja sama program Madani tersebut. Dia berpendapat, ada beberapa area tematik yang dapat menjadi fokus OMS di kabupaten/ kota, seperti anti korupsi dan kesehatan. Untuk area tematik kesehatan, open defecation free (ODF) di sejumlah kabupaten mesti terus didorong.

“Stunting, ODF, wabah malaria masih menjadi persoalan di beberapa daerah. Mewujudkan sehat itu penting. Bahkan ada wakaf jamban, biayanya murah Rp657 ribu dan saya ikut. Ini sifatnya empowering, kita berusaha mengubah pola perilaku masyarakat yang tidak sehat,” ujarnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *