Wali Kota: Penggusuran Hunian Warga Tambakrejo Sudah Lewat Proses yang Lama

SEMARANG (Asatu.id) – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, penggusuran 97 hunian warga Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara yang dilakukan Satpol PP bukanlah tindakan instan. Sebelumnya, proses sosialisasi sudah dilakukan agar warga pindah ke lokasi Rusunawa Kudu karena rumah warga akan dirobohkan untuk memperlancar proses normalisasi sungai BKT.

“Namun karena warga tidak mau pindah, meskipun kami sudah menyiapkan tempat relokasi dan uang santunan, akhirnya pihak Satpol PP melakukan tindakan. Tindakan itu bukan seketika, ada proses yang berjalan lama sebelumnya,” kata dia.

Hendi menambahkan, 97 kepala keluarga yang masih bertempat tinggal di lokasi bantaran BKT itu memang menjadi penghambat utama proyek normalisasi BKT. Pihaknya sudah kerap ditegur oleh BBWS maupun dari Kementerian agar segera menyelesaikan permasalahan itu.

Sekedar diketahui, Satpol PP Kota Semarang melakukan penggusuran rumah warga yang dibangun di atas bantaran sungai Banjir Kanal Timur pada Kamis (9/5). Penggusuran tersebut sempat ricuh karena warga berupaya mempertahankan lokasi itu.

Akibat penggusuran, sebanyak 97 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka kini menempati tenda-tenda darurat yang ada di lokasi. Kondisi ini sempat ramai dan menjadi pemberitaan baik media lokal maupun media sosial.

Persoalan warga Tambakrejo akhirnya mendapat solusi setelah Gunernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, di Gedung Moch Ichsan Kompleks Balai Kota Semarang, Minggu (12/5).

Hadir dalam kesempatan itu Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, Kepala BBWS Pemali Juwana Rubhan Ruzziyatno dan puluhan warga Tambakerjo.

Akhirnya disepakati bahwa warga Tambakrejo akan ditempatkan di lokasi Kalimati. Meski baru dalam proses pengurugan sekitar 30 persen, warga tidak mempermasalahkan, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari pekerjaan warga sebagai nelayan. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *