Gubernur Tarling Bareng Pangdam dan Kapolda di Wisma Perdamaian

SEMARANG (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melaksanakan ibadah salah tarawih kedua ini bersama Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko A Dahniel dan Pangdam IV Diponegoro, Mayjend TNI Mohammad Efendi di Wisma Perdamaian Semarang, Senin (6/5). Ini adalah rangkaian awal tarawih keliling (Tarling) yang bakal dilakukan Ganjar selama bulan Ramadan 1440 H.

Ganjar tiba di Wisma Perdamaian tepat pukul 19.00 WIB bersama istri, Siti Atikoh dan putra semata wayangnya Muhammad Zinedine Alam. Ganjar disambut oleh Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng dan Sekretaris Daerah Jateng. Setelah rehat sejenak, Ganjar beserta rombongan langsung menempati shaf pertama untuk melaksanakan ibadah salat isya dan tarawih.

Bertindak sebagai imam adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Jateng, KH Akhmad Daroji dan pemberi tausiyah, Ketua Kantor Wilayah Kementerian Agama Jateng KH Farkhani. Ibadah Salat Isya dan Tarawih Keliling ini merupakan pelaksanaan pertama dari rangkaian tarling yang diselenggarakan Badan Amalan Islam Pemprov Jateng dari Senin 6 Mei hingga Rabu 26 Mei.

Selain pimpinan tinggi di Jawa Tengah, masyarakat juga nampak memenuhi gedung Wisma Perdamaian, bahkan sampai halaman. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, kekhusyukan mesti dijadikan tujuan utama menjalani hidup di sepanjang Bulan Suci Ramadan.

“Agar ini dijadikan mutiara renungan pribadi. Ada tiga catatan jenis puasa, puasa orang awam, puasanya orang istimewa dan puasa orang tingkat tinggi,” katanya.

Puasanya orang awam, kata Ganjar, adalah puasa yang sekadar merasakan lapar dan haus. Ini puasa ketika masih kecil, yang selalu bertanya-tanya kolaknya sudah mateng belum, yang selalu terganggu dengan aroma masakan ibu.

“Ketika ibu masak atau nyambel terasi, wah Itu cukup mengganggu konsentrasi. Aroma masakan itu luar biasa mengganggu. Semoga sekarang tingkatan puasa kita sudah naik kelas,” katanya.

Untuk meningkatkan kualitas puasa, Ganjar berharap masyarakat rela berbagi, khususnya berbagi menu puasa. Agar persaudaraan semakin erat, terlebih pada mereka yang kemarin berbeda pilihan politik.

“Punya gedang goreng kirim ke tetangga, punya kolak dikirim, punya masakan apapun kirim ke tetangga, berbagai menu buka puasa pada saudara kita. Termasuk pada yang beda pilihan politik kemarin,” katanya.

Ibadah puasa di Indonesia memang dipenuhi ragam masakan yang bisa dibagikan ke tetangga. Itulah salah satu berkah menjalani kehidupan beragama di Indonesia. KH Farkhani mengatakan tidak ada alasan bagi warga Indonesia untuk mengeluh atau tidak taat dalam menjalankan ibadah puasa.

“Kita bersyukur melaksanakan ibadah puasa di negara Indonesia karena durasinya hanya sekitar 13 jam. Sementara durasi puasa negara di belahan bumi bagian utara mencapai 22 jam. Ini juga harus kita syukuri,” katanya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *