Gebyuran Bustaman : Perang Air Jelang Ramadhan

Gebyuran Bustaman : Perang Air Jelang RamadhanSEMARANG (Asatu.id) – Ratusan anak-anak muda dan orang dewasa, Minggu (28/4) petang, mengikuti tradisi budaya Gebyuran Bustaman yang diadakan di Rt 05/03 Kampung Bustaman, Purwodinatan.

Gebyuran Bustaman sendiri merupakan kegiatan bersih-bersih diri antar sesama warga Kampung Bustaman yang rutin digelar menjelang bulan suci Ramadhan. Kegiatannya adalah perang air menggunakan kantong plastik atau saling menyiramkan air.

Digelar selepas waktu Ashar hingga menjelang Maghrib, tradisi yang diturunkan Kyai Bustam ke warga setempat menjadi budaya yang menarik bahkan bagi warga luar kampung. Semua yang hadiri saling menggebyurkan air sebagai tanda bersih-bersih diri.

Hari Bustaman selaku warga yang dituakan di Kampung Bustaman mengatakan bahwa tradisi tersebut sudah ada sejak zaman dulu dan kini dibuat lebih modern lagi, salah satunya dengan menggunakan air dalam plastik yang dicampur dengan pewarna sehingga saat perang air akan terlihat lebih meriah.

“Gebyuran Bustaman ini melestarikan tradisi yang dulu Kyai Bustam memandikan cucunya sebelum puasa, dan sekarang dibuat lebih modern menjadi gebyuran. Yang penting warga bisa guyub dan gembira. Dan uniknya disini yang ikut gebyuran tidak boleh marah kalau kena air,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan kalau tradisi Gebyuran Bustaman tersebut sangat menarik dan bisa jadi ikon Kota Semarang. Sehingga kedepannya bisa menjadi salah satu daya tarik wisata yang harus dilestarikan.

“Tradisi ini sangat menarik dan seru, apalagi dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Harapannya kedepan kegiatan bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata Kota Semarang dan bisa mengundang para wisatawan,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *