Wagub Ajak Hidupkan Masjid dengan Perbanyak Kajian Islam

DEMAK (Asatu.id) – Dari sudut pandang Islam, umat Islam merupakan khalifah yang bertugas menjaga bumi tetap lestari. Tak hanya lestari dari segi fisik, namun juga menjadi tempat yang nyaman bagi manusia untuk menimba ilmu.

“Kita niki dipun dadosaken (Kita ini dijadikan) khalifah oleh Allah, penjaga buminipun (buminya) Gusti Allah. Bumi niki saget lestari, amargi taksih wonten tiyang ingkang kerso ngaji lan mulang (Bumi ini bisa lestari, karena masih ada yang mau belajar dan mengajar),” terang Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen saat menghadiri Pengajian Umum dalam rangka Haul Umum ke-33 Haul K Imam Baidlowi ke-12 dan Haflah Akhiris Sanah TPQ TBS Ar Rohmah Kedung Grogol, Karangtengah, Demak, Jumat (27/4) malam.

Gus Yasin, sapaan akrab Wagub, ingin agar proses belajar mengajar ilmu agama, seperti melalui kajian Islam, di masjid-masjid seluruh Jateng dapat terus berlangsung.

“Kula nyuwun tulung masjid niki diuripke (Saya meminta tolong masjid ini dihidupkan). Wonten (ada) diskusi-diskusi ingkang (yang) bahas ilmu keagamaan. Masjid niku (itu) dibangun kanggo (untuk) syiar agama Allah. Amargi, ilmunipun Gusti Allah niku ora mandek, nanging akeh, jembar (Sebab, ilmunya Gusti Allah itu tidak mandek, tapi banyak, luas) dan selalu berkembang,” pesannya.

Putera ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu menambahkan, sebagai khalifah, umat Islam semestinya meneladani kepemimpinan Rasululullah pada masa dahulu. Hidup di tengah masyarakat yang memeluk agama berbeda-beda justru mendorong Nabi Muhammad SAW untuk menciptakan suasana kondusif wilayah melalui Piagam Madinah dengan menjunjung sikap saling menghormati.

“Kanjeng Nabi itu berupaya membangun hubungan antar negara. Buat Piagam Madinah untuk jadi aturan, semua agama yang ada saat itu ditulis, ada Yahudi, Nasrani, Islam. Nabi dawuh (bersabda), perbedaan umatku itu rahmat,” urainya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Jateng itu berpendapat, masyarakat Indonesia yang majemuk dengan beragam suku, agama, dan budaya juga merupakan sebuah karunia Tuhan. Gus Yasin menegaskan, perbedaan tersebut tidak boleh menjadikan masyarakat terpecah-pecah karena Indonesia menjunjung semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Jaga negara kita, jangan sampai kita mau diadu domba. Indonesia bakale dadi negara makmur. Kita ada Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan itu untuk saling melengkapi, seperti Indonesia yang masyarakatnya berbeda bahasa, suku, budaya, tapi saling menghormati, sehingga tatanan negara kita utuh dan kuat,” bebernya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *