HUT Teknik Sipil UGM, Ini Berbagai Kegiatan yang Dilakukan

YOGYAKARTA (Asatu.id) – Bukan sekadar seremonial, Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil (KMTS) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) merayakan HUT ke-50 dengan bekerja langsung di tengah masyarakat. Bahkan langkah tersebut diacungi jempol oleh Ganjar Pranowo, Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) yang juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Sebagai salah satu program studi tertua di UGM, Teknik Sipil memang sudah sangat matang dalam mengelola mahasiswa. Program Studi tersebut telah berdiri sejak tahun 1946 atau ketika kali pertama universitas tersebut dibuka.

Azis Fahmi, salah seorang panitia kegiatan itu mengatakan, peringatan hari jadi Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil memang jadi ajang pengabdian mahasiswa di masyarakat.

“Pada ulang tahun ke-50 Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil kali ini kami melakukan sejumlah kegiatan yang langsung dirasakan masyarakat, pembangunan fisik maupun nonfisik,” katanya, Sabtu (27/4).

Untuk pembangunan fisik memang sudah jadi keahlian mahasiswa yang memiliki slogan “Sipil Solid” itu. Namun untuk mengimbangi, selama hampir satu minggu puluhan mahasiswa juga memberi pengajaran ke masyarakat.

“Untuk pembangunan fisik, kami merenovasi 50 rumah tidak layak huni (RTLH), pembangunan jembatan Desa Kedungsari Kulonprogo, pemeriksaan gizi dan Sipil Mengajar,” katanya.

Selain pengabdian pada masyarakat tersebut, salah satu rangkaian peringatan Lustrum KMTS adalah funbike. Salah satu peserta istimewanya adalah Ganjar Pranowo.

“Ulang tahun, semua olahraga. Alumni mendorong mahasiswa untuk membangun desa. Itu konkret, teknologinya terbaru. Semoga bisa sinergi dengan alumni,” kata Ganjar.

Tidak sendirian, Ganjar datang bersama istri yang juga alumni UGM dan juga seorang goweser. Bersama ratusan mahasiswa Teknik Sipil, mereka mengayuh sepeda kurang lebih sejauh 15 km, yang berangkat dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Ganjar mengatakan, untuk renovasi RTLH, agar dilakukan dengan pertimbangan kebencanaan.

“Mari jaga kewarasan berpikir kita dalam masyarakat. Heh, kalau mau bangun perhatikan tingkat kerawanan bencananya,” ujarnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *