Wagub Ajak Anak Muda Produksi Karya Digital Penuh Kedamaian

SEMARANG (Asatu.id) – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengajak anak muda sebagai pemilih pemula untuk memproduksi dan menyebarkan karya digital yang mengandung konten bernada kedamaian. Apalagi usai Pemilu 2019 ini banyak sekali bertebaran informasi maupun konten negatif berujung hoaks.

Pernyataan itu disampaikan Wagub yang akrab disapa Gus Yasin ini di hadapan 250 pelajar SMA se-Jateng pada pembukaan kegiatan roadshow Creatormuda Academy di Quest Hotel Semarang, Kamis (25/4). Kegiatan yang didukung Google.org berkolaborasi dengan Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation, dan Yayasan Ruang Guru itu mengangkat tema ‘Create Differently Create Better.’

“Mari, dari Jawa Tengah kita sebarkan konten-konten kedamaian, kita sebarkan konten-konten kreativitas. Sehingga isu-isu hoaks, isu-isu SARA bisa diurai. Karena ketika mereka disibukkan dengan pikiran serta energi positif dan kreatif, maka pikiran-pikiran negatif itu tidak akan muncul lagi,” kata Gus Yasin.

Sesuai definisi, ujar Gus Yasin, pemilih pemula memiliki kategori usia antara 17 sampai 35 tahun. Dia yang saat ini juga menginjak usia 35 tahun, mengajak para pemilih pemula untuk ambil bagian sebagai penentu kemajuan bangsa. Hal tersebut juga dilakukan para anak muda pada masa kemerdekaan 1945 silam.

“Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Jika dikurangi 17 tahun, hasilnya 1928. Nah, pada tahun itu muncul Sumpah Pemuda. Apa artinya, bahwa negara ini dibangun para pemuda. Apalagi kita juga punya sejarah besar di republik ini, yakni reformasi (1998) yang juga digerakkan oleh pemuda. Jadi, kita itu se-ide, kita sama-sama pemula. Kalau optimistis, kreatif, penuh inovasi, saya yakin 17 tahun akan datang Indonesia jadi acuan dunia,” ujarnya.

Deputi V Kantor Staf Kepresidenan, Jaleswari Pramodhawardhani yang hadir pada kesempatan itu menambahkan, anak muda selalu menginsipirasi dengan gagasan dan ide-ide yang kerap mengejutkan. Di sisi lain, ruang publik saat ini keruh dijejali isu politik belaka. Hoaks menjadi musuh besar bersama.

“Ruang publik hari ini dipenuhi informasi antara kebohongan dan kebenaran yang saling campur aduk. Maka, di forum ini penting untuk memaknai dan mendefinisikan kembali Indonesia. Karena kita tidak sedang bicara kebinekaan dan keragaman saja, tetapi melampaui itu. Kita punya kapal bersama, yakni Indonesia, yang perlu kita rawat keragamannya,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *