Maknai Peringatan Hari Bumi sebagai Perjuangan Hak Atas Ruang Hidup 

SEMARANG (Asatu.id) – Persatuan Rakyat Sayang Ibu Bumi (PeRaSaan IBu) berkumpul hari ini melebur di ruang publik dalam rangka memperingati Hari Bumi sekaligus Hari Kartini, Minggu (21/4).

Perayaan yang digelar di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah ini guna menyambungkan tali rasa para ibu-ibu yang selama ini berada di garis depan perjuangan untuk hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Mereka mengambil peran tersebut, tidak lain adalah karena ketulusan dan etika kepedulian (ethic of care) mereka berlandaskan kesadaran, bahwa mereka lah yang paling dirugikan apabila bumi ini dirusak. Belum lagi anak cucu mereka kelak lah yang paling terancam eksistensinya.

Mereka yang hadir kali ini adalah para Kartini Jawa Tengah dari Pegunungan Kendeng yang terancam karena tambang batu kapur (karst) dan pembangunan serta operasi pabrik semen, Kartini dari Batang yang terancam ruang hidupnya oleh pembangunan PLTU Batang dan terancam oleh pencemaran yang diakibatkannya kelak, adapula Kartini dari Tambakrejo Semarang yang terancam dipisahkan dari pesisir dan laut tempat mereka hidup dan menghidupi keluarga karena proyek kanal banjir timur.

Abdul Ghofar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menyatakan pesta oligarki dalam bentuk pemilu presiden dan legislatif telah selesai. Mari saatnya kembali fokus pada agenda keadilan lingkungan yang selama masa kampanye tidak pernah muncul dalam riuh politik.

“Kondisi lingkungan hidup Jawa Tengah kedepan akan semakin terancam, misalnya terangkum dalam Perubahan Perda Tata Ruang (RTRW) Jateng yang sebentar lagi disahkan, dimana terdapat rencana penambahan satu PLTU Batubara di Pemalang dan perluasan lima PLTU eksisting di Jepara, Rembang, Cilacap, Semarang dan Batang, kedepan makin banyak sumber emisi yang mencemari udara kita,” ujarnya.

Sementara itu, Gunarti seorang Kartini dari Pegunungan Kendeng menyampaikan harapannya kepada pemerintah selepas kontestasi politik usai.

“Kami dari kendeng itu tidak muluk-muluk, ini kan habis selesai pemilu, sebenarnya untuk apa pemerintah itu ada? Karena mereka membuat peraturan, nah peraturan itu harusnya untuk rakyat bukan ke perusahaan. Kalau kita masih butuh makan, masih butuh minum, kembali lah  patuh ke ibu bumi, sebelum Ibu bumi marah,” tandasnya.

Berkaitan dengan itu, Dinar Bayu dari Greenpeace menyampaikan pula alih-alih menciptakan swasembada pangan, kebijakan pemerintah daerah Jateng sampai saat ini masih saja menunjukan keberpihakan nya terhadap investor kotor yang semakin menyengsarakan nelayan dan petani kecil.

“Kita tidak bisa hanya berdiam diri, bersama para kartini ini harus turun dalam barisan perjuangan bersama demi masa depan lingkungan yang sehat dan layak huni,” tegasnya.

Momentum ini kami sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk “Sesarengan Nglawan Kang Ngrusak BUMI” sebagai simbol semangat perlawanan rakyat dan perempuan untuk selalu melawan perusakan terhadap ibu Bumi.

Sejumlah musisi lokal maupun luar kota turut ambil bagian dalam aksi turun ke jalan tersebut dengan menyerukan dukungan mereka terkait perlawanan terhadap kerusakan lingkungan yang dikemas dalam pertunjukan musik. Diantaranya Sisir Tanah, Babak Bondas, Jack Avanka, Sambarnyawa, Kendeng Squad, Aknostra, Noema, SG Sekartaji, adapula lapak sablon, Instalasi karya dan pertunjukan tari tradisional. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *