Pentingnya Perlindungan Anak Korban Kasus Kekerasan dalam Bingkai Pemberitaan Media

SEMARANG (Asatu.id) – Langkah terpadu dengan melibatkan semua komponen serta upaya gotong royong semua pihak untuk mengatasi persoalan anak di Kabupaten Tulungagung harus bisa dibarengi dengan pemberitaan yang berimbang untuk menjadi rujukan banyak pihak. Termasuk upaya  dari berbagai daerah yang ingin memperbaiki layanan anak.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung, Winny Isnani menjelaskan, dalam masalah anak, media sering memberitakan mendetil soal korban maupun pelaku.

Demikian dikatakannya saat menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Edukasi disertai site visit ke ULT-PSAI Kabupaten Tulungagung dan desa ramah anak bagi 20 jurnalis dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang digelar oleh JADE Sanus Indonesia yang menaungi kelompok Jurnalis Sahabat Anak (JSA), didukung Setara , Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung dan Unicef Indonesia pada Senin-Selasa (8-9/4) lalu.

“Media sering bertanya kepada saya bila ada masalah anak yang menjadi korban kekerasan. Padahal sebenarnya ada berita yang bagus selain masalah korban kekerasan. Namun itu belum dianggap menarik,” katanya.

Ia berharap dengan pertemuan awak media yang menjadi sahabat anak, maka semua masalah anak bisa menjadi berita yang menarik. Bukan lagi bad news is a good news; namun good news is a good news juga.

Sementara itu, kepedulian Pemerintah Kabupaten Tulungagung terhadap anak juga diwujudkan dengan keberadaan para pekerja sosial yang memantau terus masalah anak di setiap kecamatan. Tulungagung memiliki 19 kecamatan dan 174 desa.

Semula ada empat pekerja sosial, mereka adalah Akrin Nurhuda, Arik Budiono, Friez Sando WI, dan Mochamad Sinung Restendy. Namun kini tinggal dua yang bertugas, yakni Arik Budiono dan Friez Sando. Akrin kini bertugas di Palu, sementara Sinung diterima menjadi PNS.

“Kami punya empat tugas pokok, yakni merespon kasus anak, melakukan pendampingan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, pendampingan Program Kesejahteraan Sosial Anak, dan tugas khusus,” tutur Friez yang bertugas di Kecamatan Ngantru, Karangrejo, Sendang, Pagerwojo, dan Kedungwaru.

Bila ada kasus anak yang perlu bantuan, maka dilaporkan ke ULT-PSAI (Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif).

“Yang banyak saya tangani kasus kesejahteraan sosial. Kemudian ada dua kasus anak putus sekolah. Satu kasus karena kenakalan remaja, satu kasus lainnya karena miskin,” ujarnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *